SEBUAH JANJI



                “Ketika cinta datang, tak ada lagi yang bisa menghindarinya. Ketika sebuah janji terucap , tak ada ingkar seharusnya”.
                Grace terbangun dari mimpinya. Sinar matahari mulai masuk menerangi setiap sudut kamar tidur Grace. Grace pun menyipitkan matanya saat terkena cahaya matahari pagi itu. Mata Grace berkeliaran menuju arah jam dindingnya. Saat itu telah menunjukkan pukul 07.00 tepat. Dengan spontan Grace beranjak dari singasana tercintanya .
                “Ah mama kok gak bangunin Grace sih, telatkan jadinya”  teriak Grace dengan nada sedikit emosi . Mamanya yang sedang menyantapi sarapannya, hanya tersenyum seribu arti.
                “Gimana toh anakmu ma, bangun telat mulu. Anak gadis kok begitu” sindir ayahnya Grace.
Dengan muka cuek Grace segera meninggalkan tempat tersebut sebelum mendapatkan nasehat yang lebih banyak lagi.
                “Abang! Cepetan! Grace udah telat ni, ini hari pertama Grace sekolah”  teriak Grace sambil mengetuk keras pintu kamar mandi itu.
Rei, abangnya Grace tertawa “Hahahaha, Kalau mau masuk ke kamar mandi tu, pastiin didalam ada orang gak? Jangan asal gedor” ucap Rei.
Grace memutar ganggang pintu itu, terbuka. Antara ingin marah dan tertawa menghampirinya. Inilah pembukaan dari awal hari pertamanya masuk SMA. Hari pertama yang mungkin akan menjadi sangat buruk.
Grace berjalan dengan santai saat menuju gerbang sekolah barunya. Kemudian, salah satu senior Grace langsung memerintah Grace untuk jalan lebih cepat lagi. Grace memaki seniornya tersebut dalam hati, semakin beratlah kaki Grace menuju gerbang sekolah barunya itu.
“Bencana apalagi yang akan menimpaku di hari pertama jadi pelajar putih abu-abu ini” gumam Grace.
Tanpa basa basi Grace langsung masuk ke segerombolan murid yang sama nasibnya menjadi peserta MOS. Sesi awal dari acara MOS mereka adalah perkenalan para senior yang akan membimbing mereka pada saat MOS atau lebih tepatnya seperti bos dan kami adalah anak buahnya L . Grace tiba tiba serius memperhatikan saat salah satu seniornya  yang sedang memperkenalkan dirinya.
“Nama kakak Pieter Westerlin, panggil kak Pieter” ucap lelaki dengan berparas tampan dengan senyumnya yang membuat semua hati wanita kagum.
Langsung terbayang dibenak Grace, kak Pieter memaki baju putih dan bagaikan seorang pangeran yang sedang menunggangi kuda  . Tepat saat itu jugapula, kak Pieter menghampiri Grace sambil menawarkan Grace untuk menunggangi kuda bersamanya.
“Anak kecil yang disana , kenapa bengong?” Bentak salah satu senior ceweknya dengan nada marah.
Grace bergumam dalam hati “Dasar cewek gak tahu diri yang kerjaanya cuman merusak kesenangan orang lain”.
Detik demi detik berlalu , waktu tak akan mungkin terulang kembali entah sudah berapa lama Grace menginjakkan kakinya disekolah barunya yang menurutnya menyebalkan.
                “Tettttttttttttttttttttt!!” bunyi bel istirahat.
Jam tangan Grace menunjukkan pukul 12.00 tepat artinya sekarang saatnya untuk makan siang. Tapi segala kejadiannya yang Grace alami membuatnya tidak nafsu untuk makan . Grace pun bergegas ke salah satu  bangku di taman sekolahnya, ia ingin menyendiri. Membuang semua penat dihati. Kemudian datang seorang lelaki menghapiri Grace, ia adalah Pieter. Entah angin apa yang membuat Pieter menghampiri gadis ini. Pieter pun bingung, seakan ada magnet yang membuatnya untuk kemari. Jantung Grace langsung berdetak lebih cepat saat mengetahui keberadaan Pieter disampingnya. Tak sengaja kedua mata mereka saling berpapasan. Ada rasa teduh yang muncul saat Grace menatap mata Pieter. Rasa yang sangat jarang ia temukan kepada lelaki lain yang ia baru kenal. Keakraban seolah mucul dan mengatakan bahwa mereka sudah lama saling mengenal.
                “Aku Pieter. Panggil saja aku kak Pieter” ucap Pieter tiba tiba.
Grace pun segera mengalihkan pandangannya kelain. Ia tidak enak sudah memandangi Pieter demikian.
                “Grace” jawab Grace singkat sambil membalas uluran tangan Pieter.
Mulai muncul lagi rasa yang baru ia rasakan. Dengan cepat Grace menarik tangan mungilnya dan meninggalkan Pieter tanpa berkata apapun. Pieter tertenggun sejenak.
                “Ntah apa yang membuat aku merasa telah lama mengenalnya. Ah tapi tak mungkin, itu tak mungkin” pikir Pieter.
Grace pulang ke rumahnya dengan wajah senang, ntah lagu apa yang dinyayikan Grace saat sedang berada di dalam mobil. Suara false pun dianggap Grace bagus. Setibanya Grace dikamarnya, ia segera merebahkan badannya ke singasananya. Ia ingin menghilangkan kepenatan hari ini. Grace pun menghidupka MP3 dengan suara keras. Rei kakaknya Grace merasa terganggu dengan suara MP3 itu. Reipun bergegas ke kamar Grace supaya MP3nya dipelankan sedikit. Ucapan Rei seolah dianggap angin lalu oleh Grace saking senangnya.
                Di tempat lain, Pieter terus membayangkan wajah Grace . Pieter senyam senyum sendiri. Ia tidak peduli akan dikatakan aneh. Tiba tiba teringat akan album kenangan masa kecilnya Pieter. Iapun segera mencari kemana album itu. Album kenangan yang banyak menyimpan sejuta kisah masa kecilnya yang manis. Pieter membuka lembaran demi lembaran album yang telah using tersebut. Mata Pieter langsung tertuju kepada seorang gadis, sahabat lamanya yang entah apa kabarnya. Terlintas wajah Grace. Semakin penasaran Pieter, semakin lama ia memandangi foto gadis kecil itu, semakin menujukkan kemiripan dengan wajah yang dimiliki Grace. Pieter mulai menduga duga.
“Mungkinkah Grace memang sahabat kecil ku dulu?” pikirnya.
Tanpa berpikir panjang Pieter segera menghubungi salah satu pegawai administrasi sekolahnya. Pieter ingin mengetahui dimana alamat Grace, ia ingin memastikan tentang dugaannya tadi. Setelah ia dapatkan, Pieter segera menuju ke alamat yang ia dapai tadi. Sekarang Pieter telah berdiri di sebuah rumah asri. Tak ada keraguan didalam hatinya. Kakinya seolah ingin segera cepat memasuki rumah tersebut. Diketuknya pintu rumah tersebut. Lama ia tunggu, tak kunjung pula ada orang yang membukakannya pintu. Hampir Pieter memutuskan untuk pulang, namun tiba tiba ada sesosok wanita tua yang masih terlihat cantik membukakannya pintu.
                “Er!” ucap mamanya Grace.
Sontak mamanya Grace memeluk erat Pieter. Pieter tidak menyangka mamanya Grace masih hapal dengan sahabat lama anak gadisnya itu.  Mamanya Grace segera mempersilahkannya masuk, mereka berdua pun ngobrol akrab. Tiba tiba melintas Grace dengan baju rumahnya itu.
                “Grace!! Sini dulu” panggil mama Grace.
Grace menuju kearah Pieter dan mamanya dengan wajah bingung. Mereka berdua tertawa keras , Grace semakin tidak mengerti mengapa kak Pieter seniornya bisa ke rumahnya.
                “Siapakah kak Pieter?” gumam Grace dalam hati.
Tanpa banyak basa basi , mama Grace langsung menjelaskan semuanya. Kini Grace tahu siapa Pieter. Ia adalah sahabat lamaku yang Grace kira tak akan pernah lagi berjumpa. Grace mengira kenangan itu hanya akan berlalu begitu saja, hanya menjadi masa lalu yang tidak aka nada gunanya untuk diingat. Pieter meminta izin ke mama Grace untuk mengajak Grace untuk ke suatu tempat. Pieter mengajak Grace ke taman kota, disana mereka duduk berdua sambil mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Suasana malam saat itu sangat syahdu , mereka berdua ditemani suara suara jangkrik yang bersahut sahutan. Mereka pun memandangi ke atas langit, memandangi indahnya bulan Purnama. Kenangan ini sama saat mereka masih kecil tersebut. Dibawah cahaya terang bulang itu Pieter mengucapkan janji terakhirnya saat Pieter akan pindah ke Austria.
                “Suatu hari nanti, akukan kembali menemanimu dibawah cahaya terang bulan purnama . Kita tak akan berpisah, tidak mengenal satu sama lain . Karena aku akan senantiasa mengingatmu seperti bulan yang ada langit , yang tak hentinya menyinari malam ini. Dan akujuga tak akan henti menyinari hari harimu. Sekarang aku telah menetapi janjiku itukan Grace? Kamu tahu gak? Tiap malam aku berdoa agar kita dipersatukan kembali. Dan lihatlah sekarang kita masih bisa bertemu pandang , menggenggam tangan satu sama lain . Aku masih bisa melihat dan merasakan indahnya senyum dibibir manismu” .
Grace langsung memeluk Pieter erat. Grace tidak ingin dipisahkan kembali dengannya.
“Aku kira janjimu hanya sebatas janji. Sekarang aku mengerti, bahwa kau memang sungguh sungguh .  Aku percaya padamu. Hargailah kepercayaan aku ini , jangan pernah kau nodai segala rasa percaya ini” kata Grace.
Merekapun salingberpelukkan. Sejak saat itu mereka selalu berdua bagaikan surat dan prangko.
               
               


                 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Anonim mengatakan...

km yg buat?

Veneranda Venny Grishela mengatakan...

Iya . Kenapa?

Posting Komentar