Semut termasuk binatang yang kecil dan lemah. Namun yang unik adalah melihat kenyataan bahwa semut termasuk salah satu binatang yang survive di tengah seleksi alam yang terus terjadi. Tak hanya itu, semut juga memiliki cara kerja yang sangat hebat, hingga Salomo sampai pebisnis modern menganjurkan agar kita belajar dari semut. Apa yang bisa kita pelajari dari semut?
1. Semut adalah binatang yang sangat rajin. Kita tidak akan pernah melihat semut yang bengong sendirian. Kalau ada semut yang tidak bergerak, bisa dipastikan itu adalah semut mati. Semut adalah binatang yang rajin dan selalu bergerak ke sana ke mari untuk bekerja. Tak heran kalau semut tak pernah mati kelaparan. Apakah kita juga bekerja dengan rajin seperti semut?
2. Semut adalah binatang yang tak pernah menyerah. Tak kenal menyerah adalah sifat khas semut. Kalau tidak percaya, lakukanlah percobaan ini. Tangkaplah seekor semut, lalu cobalah untuk meletakkan sesuatu untuk merintangi langkahnya. Saat melihat jalan di depannya ada hambatan, semua tidak akan duduk termenung, meratapi nasib yang malang dan pulang dengan rasa kecewa. Semut akan berusaha dengan segala cara untuk melewati hambatan itu. Bisa lewat atas, lewat bawah, lewat jalan memutar, bahkan kalau perlu bersama dengan semut-semut yang lain akan memindahkan rintangan tersebut!
3. Semut adalah binatang yang mandiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri. biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya... Meski tidak ada yang mengawasi, semut akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bukankah kita yang hanya bekerja kalau diawasi atasan atau bos harusnya malu melihat kenyataan ini?
4. Semut adalah tim yang luar biasa. Mereka sangat ahli dalam menyampaikan informasi, sehingga tak perlu heran kalau dimana ada satu makanan, ribuan semut tiba-tiba sudah mengerumuninya. Semut punya tim yang hebat, sehingga dengan kerja sama yang baik, mereka bahkan bisa mengangkat makanan yang beratnya berkali lipat dari berat badannya. Adakah kita bisa belajar dari semut tentang membangun tim yang sukses? • Ambilah sedikit waktu untuk memperhatikan aktivitas semut dengan lebih detail lagi.
Belajar dari semut yukk???
Batu Menangis
Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Provinsi ini memiliki ratusan sungai besar dan kecil, sehingga dijuluki sebagai wilayah “Seribu Sungai”. Menurut cerita, di sebuah daerah di provinsi ini ada seorang gadis cantik yang menjelma menjadi batu. Peristiwa apa yang menimpa gadis itu, sehingga menjelma menjadi batu? Ingin tahu cerita selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Menangis Berikut ini! * * * Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan. Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak. ”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu. ”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Darmi menolak. ”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba. ”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus. Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan. ”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya. ”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu. ”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi. ”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal. Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari. Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar. ”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya. ”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya. ”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya. Namun setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar. ”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya. ”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran. ”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Darmi. ”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu. ”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya. Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan. Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain. ”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu. ”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan. ”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang. ”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis. Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang. ”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu. ”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat. ”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu. ”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan. ”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran. Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas. ”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak. Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu. ”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik. ”Ibu…! Ibu… ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak. ”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik. Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang. * * * Demikian cerita dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap durhaka terhadap orang tua. Oleh karena itu, seorang anak harus hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena doa ibu akan didengar oleh Tuhan. Terkait dengan sifat durhaka ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan: kalau hidup mendurhaka, kemana pergi akan celaka kalau suka berbuat durhaka, orang benci Tuhan pun murka.
Ibu
LEGENDA BUJANK NYANGKO
Diambil dari cerita rakyat Suku Dayak Kanayant, KAL-BAR
(Dengan sedikit perubahan)
Tokoh :
1. Santak Mantaari
2. Dayank Gulinatn
3. Bujank Nyangko
4. Palapi
5. Kakak Dayak Gulinatn/ Bibi Nyangko
6. Warga Desa
7. Teman Santak Mantari
8. Penduduk lain
9. Pemimpin Ritual
10. Ular Tedung
11. Beruang
12. Raja Lebah
Disebuah rumah panjang dikampung Jering, hidup seorang perawan tua, yang bernama Dayakng Gulinatn. Pada suatu malam, ia bermimpi didatangi seorang pemuda tampan yang baik hati. Pemuda itu turun dari langit, dan tersenyum kepadanya. Ia mengulurkan tangannya kepada Dayakng Gulinatn.
Santak Mantaari : ‘’Hai,..siapa namamu ? ‘’
Dayak Gulinatn : ‘’Saya Dayakng Gulinatn, kamu siapa ? ‘’
Santak Mantaari : ‘’Saya Santak Mantari, dari negeri Sapangko Kanayatn’’.
Bersamaan dengan pemuda itu menyebutkan namanya, hujan turun dengan derasnya yang disertai petir. Karuan saja Dayakng Gulinatn terkejut. Ia sadar, bahwa ia telah bermimpi didatangi pemuda yang baik hatinya dan tampan.
Dayakng Gulinatn :’’Oh Alangkah indahnya hidup ini bila pemuda itu menjadi jodohku’’.
Keesokan harinya, Dayakng Gulinatn selalu teringat dengan pemuda itu. Tiada yang lain dipikirkannya, ia semakin rindu dengan mimpi itu. Meskipun tidak menikah, namun tiba-tiba ia hamil.
Dayank Gulinant : “ Hahhh..Aku hamil ?!!!!!!’’ (Sambil menangis)
Meskipun demikian ,dengan sifat keibuannya Dayakng Gulinatn tetap saja memelihara anak dalam kandungannya itu. Setelah cukup sembilan bulan sepuluh hari, lahirlah anak itu. Seorang bayi laki-laki. Lahirnya bayi dari rahim dayakng Gulinatn disertai gelegar petir yang sangat keras, hujan deras. Hujan ini tak pernah reda, malahan semakin deras saja. Berhari-hari lamanya. Karena hujan tak juga berhenti, para orang tua dikampung itu mengadakan musyawarah, untuk mendiskusikan langkah-langkah apa yang akan diambil.
Warga 1 : “Pasti ada sesuatu dikampung kita ini” (Sambil bersikap panik)
Warga 2 : “Iya..ya, kalau gadis lain melahirkan, tidak seperti dayakng Gulinatn’’.
Warga 3 :’’Saya pun heran, kenapa hujan terus tak pernah berhenti ? “
Warga 4 : ‘’Kalau begitu, kita tanya saja kepada Dayakng Gulinatn, ada apa sebenarnya“. Warga 1 : “Oh…jangan! Nanti tidak enak dengan kampung tetangga. Menurut saya, ada baiknya kita mengadakan ritual notokng. Mungkin kepala kayo yang disimpan di tingaatn rumah itu marah atas perbuatan kita .“
Warga 2 : “ Baiklah, kalau begitu. Pertemuan ini, mari langsung kita bentuk saja pelaksana ritual itu’’.
Warga 1-4 :“ Setujuuuuu..” (Serempak)
Malam itu, musyawarah berhasil menyepakati membentuk kepanitiaan untuk penyelenggaraan riual notokng. Semua penduduk bekerja menyiapkan acara itu, tua muda, laki-laki perempuan. Beberapa hari kemudian, persiapan telah selesai. Tempat ritual itu diadakan dihalaman rumah. Selesai ritual, semua penduduk menari. Namun, walaupun telah mengadakan ritual notokng, hujan tetap saja tak berhenti. Aneh, Dayak Gulinant tidak terlihat dipesta itu. Ia tetap saja mengurung dirinya dikamar.
Penduduk : “ o..begitu ya, aneh ya dia tidak menari ? “(Berbagai pertanyaan muncul dari penduduk lainnya)
Pemimpin Ritual : ‘’Coba kamu Palapi jemput Dayakng Gulinatn. Mungkin ia ada dirumah “.
Palapi : “ baiklah “ (Pergi meninggalkan tempat itu)
(Sesampai di rumah Dayank Gulinatn)
Palapi :’’Pemimpin ritual menyuruhmu untuk bergabung menari di acara ritual itu’’.
Dayank Gulinatn : (Pergi & bergabung dengan warga lainnya)
Dayakng Gulinantn dengan malu-malu kemudian ikut menari bersama semua penduduk kampong. Tanpa sadar, bayinya telah ditinggalkan didalam kelambu. Semua senang dengan kepandaian dayakng Gulinatn menari. Tiba-tiba hujan berhenti disertai pelangi dan matahari menyinar terang ( ujatn darakng ). Melihat kepandaian Dayakng Gulinatn, Santak Mantaari gemetar dalam hatinya. Ia bermaksud membawa Dayakng Gulinatn ke negerinya yang bernama Sapangko. Ketika Dayakng Gulinatn tidak tahu bahwa ada yang mengintainya, saat itulah Santak Mantari berhasil menyambar dan membawa Dayakng Gulinatn pergi terbang ke negeri Sapangko.
Dayank Gulinatn : ( Sedang menari)
Santak Mantaari : (Menyambar Dayank Gulinatn) ‘’Jangan kau memberontak! Aku datang untuk menjemputmu’’.
Dayank Gulinatn : (Tak dapat berbuat apa-apa)
Melihat Dayakng Gulinatn di culik, orang kampung menjadi begitu marah, Palapi lansung menyambar mandau untuk membuat perhitungan dengan Santak Matari, Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Santak Mantaari lari terbang dan lolos dari kejaran orang kampung.
Palapi : Sungguh kejam orang itu!! ( Marah besar)
Setelah melihat kejadian yang menimpa adiknya, kakak Dayakng Gulinatn pergi melihat keponakannya anak Dayakng Gulinatn, ia kuatir keponakannya ikut di ambil oleh Santak Mantaari. Sepeninggal Dayakng Gulinatn, anaknya di pelihara dengan penuh kasih sayang oleh bibinya yaitu kakaknya Dayakng Gulinatn. Setelah beberapa hari, anak Dayakng gulinatn di kasih nama beserta dengan di lakukannya acara sukuran, anak tersebut di beri nama Nyangko. Bibinya sangat prihatin dengan keponakannya, karena masih kecil sudah di tinggalkan ibunya. Orang kampung sangat suka dengan kehadiran Nyangko, karena selain mempunyai banyak kemampuan, juga suka menolong orang-orang kampung tersebut. Nyangko tak ingin melihat kehidupan orang kampung di lilit oleh kemiskinan dan lain sebagainya. Beberapa kali kampung mereka di serang “Kayo” Nyangkolah yang nyelamatkan serta berhasil mengusir Kayo dari kampung mereka. Rasa suka orang kampung terhadap Nyangko semakin bertambah, karena dengan kehadiran Nyangko di kampung mereka keadaan menjadi aman dan tenteram. Selama lima belas tahun bibinya memelihara Nyangko anak Dayakng Gulinatn, melihat keponakannya sudah beranjak dewasa dan di anggap sudah pantas mengetahui siapa Dia maupun orang tuanya.Bibinya pun menceritakan semuanya.
Bibi : ‘’ Nyangko kamu sesungguhnya mempunyai ibu, saat ibumu melahirkan, hujan deras, petir menggelegar, pokoknya cuaca begitu tak menentu siang hari dan malam hari. Melihat keadaan cuaca yang begitu buruk dan tidak seperti biasanya, orang kampung membuat acara adat “Notokng”. Semua penduduk di kampung tersebut ikut menari tak terkecuali Dayakng Gulinatn ibunya Nyangko, Karena begitu keasyikan menari, ibumu tidak sadar bahwa dirinya di intai oleh seorang laki-laki untuk di bawa lari ke kampung halamannyaIbumu di bawa pergi oleh Santak Mantaari ke Negri Sapangko ‘’.( Sambil menunjukkan wajah kesedihan)
Mendengar ceritera dari bibinya demikian tragis, Nyangko bermaksud pergi ketempat di mana ibunya berada, ia ingin sekali bertemu dengan ibunya, niatnya tersebut di utarakan sama bibinya.
Nyangko : “ bagaimanapun aku harus pergi ke tempat di mana ibuku ke negeri Sapangko apapun resikonya’’.
Bibi : “kapan kamu mau berangkat ? ‘’
Nyangko : ‘’ PAGI BESOK’’. (Dengan tegasnya)
Pagi-pagi bibinya sudah menyiapkan bekal untuk Nyangko berangkat menuju negeri Sapangko, karena Nyangko memiliki beberapa kepandaian yang di sebut oleh orang kampung “jago” maka sekali melompat, Nyangko sudah sampai di Negeri Sapangko.
(Di Negeri Sapangko)
Santak Mantaari saat itu sedang membongkar (pumputn) sarang ikan yang terbuat dari timbunan kayu-kayu ladang di tumpuk di setiap lubuk sungai, ikan yang di dapat begitu banyak, satu “tingkalakng” ikannya di bawa pulang, karena begitu senang mendapat begitu banyak ikan sehingga Santak Mantaari lupa pada orang kampung dan keadaannya. Santak Mataaari tidak tahu bahwa Nyangko sudah berada di kampung untuk menjenguk ibunya.Dayakng Gulinatn pun kaget melihat ada seorang anak muda datang ke tempatnya.
Dayank Gulinatn : ‘‘siapa kamu ? “
Nyangko :“aku Nyangko, aku mau pergi ketemu ibuku”.
Dayank Gulinatn : Siapa ibumu ? “tanya Dayakng Gulinatn”.
Nyangko :’’Namanya Dayakng Gulinatn, ibuku tersebut di bawa lari oleh Santak Mantaari, “kata Nyangko”.
Dayank Guliatn :’’O o, kalau begitu akulah ibumu’’. (Mereka pun menagis karena terharu sambil berpelukan)
Nyangko : “ kemana ayahku bu?’’
Dayank Gulinatn : ‘’ Ayahmu sedang membongkar sarang ikan yang di buatnya dari dahan dan ranting kayu yang di tumpuk pada lubuk-lubuk di sungai, sebentar lagi ayahmu datang’’.
Tak lama kemudian Santak Mantaari datang.
Santak Mantaari : (Bingung) “siapa kamu, ngapa kamu ada di sini?’’
Nyangko : ‘’ Aku sedang mencari ayah dan ibuku’’.
Dayank Gulinatn : ‘’ E e itulah ayahmu nak !’’
Santak Mantaari :’’Sabar dulu! Siapa sebenarnya anak muda ini ?Jangan mudah percaya !’’ ( Marah kepada istrinya)
Dayank Gulinatn : ‘’ oh… dia ini anakku yang kutinggalkan dalam kelambu saat kamu membawaku lari beberapa belas tahun yang lalu, aku tidak sempat membawanya, karena kamu merampasku dan membawaku terbang’’.
Santak Mantaari : ( Mengangguk tanda mengerti) ‘’Baguslah kalau begitu, artinya kita masih mempunyai rejeki untuk bertemu dengan dia kembali’’.
Mencoba membunuh Nyangko.
Santak Mantari : ‘’Sekarang kamu makan ikan ini kalau kau benar anakku’’.
Nyangko : (Mengikuti perintah ayahnya)
Nyangko mengambil ikan tersebut, tanpa susah payah ikan tersebut di telannya, Santak Mantaari menggelengkan kepala, karena ternyata Nyangko lebih hebat dari dirinya.
Santak Mantari : “Kalau begitu kamu memang benar anakku”.
( Makan Siang)
Santak Mantaari : “besok kita pergi ke hutan mencari kulit kayu”.
Nyangko : ‘’ Iya’’.
Keesokan harinya mereka berangkat, Nyangko sengaja di ajak ke hutan yang berpenghuni banyak ular Tedung, Nyangko tidak menyadari akan niat busuk ayahnya untuk mencelakai dirinya, dan ia mau saja di ajak.
Dalam perjalanan ke hutan Ayahnya berjalan lebih dulu karena Ia lebih pahan situasi di hutan tersebut. Nyangko, melihat banyak sekali Ular Tedung lewat melintas di hadapannya dengan ukuran yang cukup besar, dalam hati ayahnya senang dan berpikir bahwa Nyangko akan mati oleh ular-ular Tedung tersebut.
Ular : “ kamu di sini jangan takut, kami tidak akan mengapa-ngapakan kamu’’. Nyangko : ‘’Okelah’’.
Kemudian oleh raja Tedung, Nyangko di beri bekal sebotol kecil obat penawar bisa.
Sekian lamanya dalam perjalanan, melihat Nyangko baik-baik saja, sebentar-sebentar ayahnya menoleh ke belkang untuk mengetahui keadaan Nyangko, sang ayah kembali salut bercampur gusar menghadapi kehebatan Nyangko.
Santak Mantaari : “ini semakin tidak benar, baiklah besok akanku ajak kesarang Beruang biar dia mampus !’’ (Dalam hati)
Sesampainya di rumah.
Santak Mantaari : ‘’ Besok aku akan mengajak Nyangko jalan-jalan kehutan lagi, karena aku melihat Nyangko sangat suka kehutan’’.
Dayank Gulinatn : ‘’Kalau memang begitu pergilah, hanya hati-hati’’.
Keesokan harinya lagi, Nyangko di ajak ke hutan lagi.
Santak Mantaari : “kita mencari sirih di hutan sana, cuman rumpun sirih itu dekat dengan sarang Beruang, apa kamu berani mengambilnya?”
Nyangko :’’ Iyalah, aku berani ! ( dalam hati Nyangko berpikir keder dan takut) Santak Mantaari : (Dalam beanaknya, Nyangko kali ini takkan bisa lagi lolos)
Diluar dugaan Nyangko, kedatangannya seolah-olah di sambut dengan gembira oleh Beruang tersebut, bahkan beruang yang paling besar langsung menghampiri Nyangko.
Beruang : “kamu jangan takut, kami tidak akan menyakiti kamu apalagi membunuhmu”
Melihat situasi seperti itu, sekali lagi Santak Mantaari ayah Nyangko menggelengkan kepalanya pertanda salut, tempat sirih Nyangko sudah penuh, dan ayahnya di ajak pulang oleh Nyangko.
Setibanya di rumah,
Santak Mantaari : ‘’besok kita pergi lagi ke hutan mencari Gambir”.
Mendengar itu ibunya mulai kuatir, karena ia tahu tempat mencari gambir tersebut banyak sarang lebahnya, dan mulai terasa perasaan tidak enak dengan ulah suaminya terhadap anak kandungnya sendiri.
Dayank Gulinatn : “hati-hati ya Nyangko’’.
Setelah mengetahui akal bulus ayahnya, Nyangko pun bingung, namun karena ia pemberani, ia tetap merasa senang di ajak ayahnya, karena memang sifat Nyangko yang ringan tangan. Gambir tersebut tumbuh pada batang kayu Benuang yang cukup tinggi, dan ada sarang lebahnya.
Pagi-pagi sekali Nyangko sudah di bangunkan oleh ayahnya, mereka berdua pergi ke hutan, di mana dalam hutan tersebut memang banyak sarang lebahnya.
Santak Mantaari : “Nyangko, ! kamu yang naik, ayah nunggu dibawah’’. (Sambil melihat pohon Benuang yang sangat tinggi)
Nyangko : (Bergegas menuruti perintah ayahnya)
Sesampainya diatas pohon Benuang..
Raja Lebah : “jangan takut dengan kami ya Nyangko” (sambil menyerahkan pihamakng (sebentuk barang untuk memperingan badan))
Santak Mantaari : “hebat benar anak ini, apa lagi yang harus ku lakukan untuk mencelakainya ?” (dalam hati)
Setelah penuh tempat gambirnya, Nyangko turun dan mengajak ayahnya pulang.
Setibanya di rumah, ayahnya mengajak Nyangko belajar Mengayau besok kita bermain teka-teki. Nyangko nampak selalu senang dengan kemauan ayahnya.Sore harinya, Santak Mantaari ayah Nyangko mengajak teman-temannya Mengayau diantaranya bernama Catek Pak Caneng, Bias Pak Rega, Guranikng, dan Pak Lonos.
Santak Mantaari : ‘’besok kita Mengayau’’.
Teman Santak M : “ OK’’ ( serempak)
Keesokan harinya, Santak Mantaari dengan Nyangko berkemas-kemas untuk berangkat Ngayau, di pinggangnya diikatkan “Otot” sejenis alat untuk menyimpan kepala Kayau, “Burayakng” sejenis tombak dan “Tangkitn” mandau asli orang Dayak. Sampai di tempat yang mereka tuju, mereka berlima berhenti sejenak, di situlah ayahnya kembali mencobai Nyangko, ayahnya memotong sebatang buluh bala, seukuran betis sekali sentak langsung putus buluh bala tersebut.
Santak Mantari :’’ Nyangko !’’ kamu putuskan bulah bala ini !
Nyangko : ( menarik mandau dari sarungnya, dan menyabet buluh bala tersebut hingga putus)
Santak Mantaari : (Mengelengkan kepala tanda kagum)’’ O…. kalau begitu, kita main lompat-lompatan, kita melompati sungai itu (sambil menunjuk sungai yang cukup besar di hadapannya) . ‘’Kalau begitu, tiga hari tiga malam lagi kita berlima berangkat ngayau, ke “Timpurukng Pasuk, ke Lamak Bagelah, ke Akar ina’ di tatas, ke Rabukng ina’ di Sempo’’.
Mendekati hari yang sudah di tentukan, mereka berlima membuat, pedupu/markas, serta mato’ (ritual adat untuk melemahkan lawan) dengan sebiji telur.
Disiang hari H nya….
Santak Matari : “kita berangkat sekarang”
Mereka berlima pun berangkat, Nyangko mengikuti dari belakang sambil memperhatikan permainan ayahnya. Nyangko benar-benar mau menunjukan kehebatannya pada ayahnya dan teman-temannya. Nyangko bersiasat, telur yng di pegangnya di pecahkan pada pantatnya dan ia bilang ia tidak jadi pergi, karena sakit perut dan berak-berak terus.
Sambil memegang perutnya Nyangko pura-pura kesakitan, ayahnya pun percaya, karena dari pantat Nyangko kelihatan keluar lendir dan darah.
Santak Mantaari : ‘’O…. kalau begitu kamu tidak berguna, baikla.
Kami berempat sajayang berangkat ‘’.
Mereka berempat langsung berangkat, berjalan beriringan, melihat ayah dan teman-temannya berangkat sudah jauh, Nyangko sekali melompat udah sampai di tempat yang akan di tuju oleh ayahnya. Kayau sudah habis di cincang-cincang oleh Nyangko, kepala yang besar-besar di bawanya, sedangkan kepala yang kecil-kecil di tinggalkannya, setelah selesai Nyangko melompat kembali ke pedupunya, sedangkan ayah dan teman-temannya baru tiba di tempat tujuan yang mau di kayau setelah Nyangko meninggalkan tempat tersebut. Ayah dan kawan-kawannya heran melihat bangkai sudah berseliweran mereka mengemaskan kepala yang di tinggal oleh Nyangko untuk di bawa pulang ke pedupu.Usai mengemaskan sisa kepala kayau yang Nyangko tinggalkan, ayahnya dan kawan-kawan pulang ke pedupu.
Santak Mantaari : ’’Ini lihat, kepala kayau sampai tak terbawa oleh kami, kamu sendiri
tidak berguna karena tidak mau berangkat Ngayau’’.
Nyangko : ‘’O… kepala kayau yang besar-besar mana ?’’
Teman Ayah 1 : ‘’Entah kemana, hanya ini yang kami dapat’’.
Nyangko : ‘’Ini punyaku, kepala pangalangoknya (pimpinan perang), lihatlah besar-
besar, kalian sudah memungut bekas-bekas yang ku tinggalkan’’.’’Sekarang kita pulang ke rumah, aku mau membawa ibuku kembali ke dunia, kalau kalian tidak menyetujuinya saat ini juga kita bekayau’’.
Sepatah katapun ayahnya tidak berbicara, karena ia takut dengan kehebatan Nyangko.
Sesampai di rumah/kampung Nyangko bilang sama ibunya bahwa ia mau mengajak Nya kembali ke Dunia. Ibunya mau saja, pagi hari berikutnya Nyangko dan ibunya turun ke dunia, Nyangko dan ibunya kembali menjadi seperti manusia biasa lagi.
CINTA
Namun, kiranya sangat sulit untuk mencintai mereka yang melukai kita. Sangat sulit mencintai musuh atau orang yang kita anggap jahat terhadap kita. Bagaimana mungkin membalas kejahatan atau keterlukaan dengan cinta? Bagaimana mungkin berdoa untuk orang yang membuat hidup kita menderita? Kita kagum dengan para suami-istri yang tetap berusaha saling mencintai meskipun ada luka dan kekecewaan. Kita kagum dengan orangtua yang tetap mencintai anak-anaknya. Bahkan, ketika anak-anaknya membalas kebaikan orangtua dengan penderitaan. Bagaimana dengan anda?









