Melalui Dunia Pendidikan
(Oleh: Veneranda Venny Grishela)
SMPN 1 NGABANG
Yang saya hormati:
Para Dewan Juri
Bapak, Ibu, Saudara Saudari yang saya muliakan; dan
Teman-teman seperjuangan yang saya banggakan.
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.
Mengawali pidato saya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Landak yang ke X (sepuluh) ini, pertama-tama saya mengajak kita semua untuk mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat serta karunia-Nya kita bisa hadir di tempat ini dalam keadaan sehat wal-afiat. Perkenankan juga saya mengucapkan Dirgahayu Pemerintah Kabupaten Landak, semoga di usianya yang ke X (sepuluh) ini semakin jaya serta maju dalam pelaksanaan pembangunan dan kemasyarakatan di bumi intan yang tercinta ini.
Hadirin yang saya muliakan.
Pada kesempatan yang baik ini, saya akan membawakan pidato dengan judul “Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup Melalui Dunia Pendidikan”. Pemilihan judul ini menurut saya sangat relevan dan tepat dengan situasi yang ada saat ini.
Dulu di era tahun 60-an (enam puluhan) atau 70-an (tujuh puluhan), Indonesia dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis khatulistiwa. Banyak orang menggambarkan Indonesia bagaikan untaian zamrud khatulistiwa yang berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Bahkan Koes Plus, sebuah group band yang sangat populer di zamannya melukiskan kesuburan Indonesia “bak tanah surga” dengan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.
Hadirin yang saya muliakan.
Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat kayu dan batu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Belum kering air mata, bagaimana gempa bumi menggoncang kota Bandung dan sekitarnya, terus disusul dengan bencana banjir bandang di Mandailing Natal; dan bencana gempa bumi yang amat dahsyat yang meluluh lantakan seluruh sendi kota Padang dan Pariaman Sumatra Barat. Semua mata dunia tertuju pada bencana ini, zamrud khatulistiwa yang dulunya bagaikan tanah dewata belakangan ini berulah murka.
Kendati bencana datang silih berganti, kegiatan pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar (illegal loging), penambangan liar (illegal mining), penangkapan ikan liar (illegal fishing) dengan menggunakan racun maupun bahan peledak; nyaris tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Namun ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.
Hadirin yang saya muliakan.
Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup? Mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa? Serta beribu pertanyaan yang kesemuanya membutuhkan jawaban.
Saat ini agaknya nyaris tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis dan borjuis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.
Hadirin yang saya muliakan.
Namun masih terdapat harapan dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praktis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Alam bukan hanya sumber kehidupan, melainkan juga sahabat dan guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi mereka. Dari alam mereka menemukan falsafah hidup, membangun religiositas dan pola hidup seperti yang mereka anut hingga kini. Memanfaatkan alam tanpa mempertimbangkan eksistensi budaya setempat tidak beda dengan penjajahan
Namun, berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi. “Membangun tanpa merusak lingkungan” yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan pun hanya slogan belaka. Realisasinya, atas nama pembangunan, penggusuran lahan dan pembabatan hutan terus berlangsung. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para “bromocorah” lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat manusia. Para investor yang nyata-nyata telah membutakan mata dan tidak menghargai kearifan lokal masyarakat setempat justru dianggap sebagai “pahlawan” lantaran telah mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun devisa Negara.
Hadirin yang saya muliakan.
Dalam kondisi seperti ini, hanya mencari “kambing hitam” siapa yang bersalah terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak. Lingkungan hidup merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan partisipasi semua komponen bangsa (stakehoders) untuk mengurus dan mengelolanya. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang nyata-nyata telah terbukti menyengsarakan banyak umat manusia.
Tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan melalui:
Pertama, menjadikannya sebagai benteng yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah giat menuntut ilmu.
Kedua, menggali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Ketiga, lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan.
Hadirin yang saya muliakan.
Cinta lingkungan hidup penting dikembangkan melalui dunia pendidikan karena jutaan anak bangsa kini tengah giat menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dengan demikian dunia pendidikan mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya.
Demikian hal-hal yang bisa saya sampaikan. Dan akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, Saudara Saudari sekalian serta teman-teman seperjuangan; mohon maaf atas kekeliruan yang ada. Semoga cita-cita kita yang mulia ini untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup selalu mendapat bimbingan dari-Nya. Dirgahayu Pemeritah Kabupaten Landak! Terus maju menuju perubahan.
Sekian dan terima kasih
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.