Cerpen : Rumah Angker


            “Ssstttt, diam dong teman-teman. Kalian nggak tahu ya? Coba kalian lihat rumah itu. Katanya sih rumah itu angker. Apalagi pohon yang ada di pekarangan rumah itu. Kalau kita berisik, kita bisa dimakan hantu penghuni rumah angker itu ” ucap seorang anak bernama Dodi kepada 3 temannya. Belum selesai Dodi mengakhiri ceritanya, teman-temannya sudah pergi meninggalkannya, ketakutan. Mata Dodi berjalan-jalan melihat kesegala arah sekitarnya. Tanpa pikir panjang lagi, Dodi pun segera menyusul pergi teman-temannya itu.
            Keesokkan harinya, Dodi dan teman-temannya mengadakan taruhan tanding bermain sepak bola dengan anak komplek sebelah. Dan kebetulan pula, pertandingan  sepak bola itu diadakan di sebuah lapangan luas tepat samping rumah angker itu. Pertandingan itu pun dimulai. Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi, bola mereka masuk ke pekarangan rumah angker itu. “Mampus dah!” ucap salah satu teman Dodi, Deni. “Gimana dong ini?” sambung Dodi. Mereka pun mencoba mencari jalan keluarnya. Namun tidak ada hasilnya. “Mengambil bola di halaman rumah angker itu sama saja cari mati” ucap Dodi. Teman-teman lainnya setuju atas ucapan Dodi barusan. Mereka pun putus asa, mereka memutuskan membatalkan pertandingan taruhan itu dan pulang ke rumah masing-masing.
Dodi masih saja memikirkan tentang rumah angker itu, Dodi penasaran apakah betul yang didengarnya selama ini tentang rumah itu. Dodi memutuskan untuk menyelidiki rumah itu. “Teman-teman, kita selidiki rumah angker itu yuk? Dodi ingin tahu yang sebenarnya.” bunyi pesan singkat yang dikirim Dodi melalui Handphone. Jawaban teman-teman Dodi sama. Tidak ada yang mau ikut menyelidiki. Dodi pun membatalkan niat untuk menyelidiki rumah itu. Dodi takut sendiri. Dodi takut ada hal yang tak terduga akan terjadi padanya. Atau mungkin membuat dirinya celaka. Ketakutan makin menghantui Dodi. Membuat Dodi tidak bisa tidur malam ini.
            Matahari belum menampakkan sinarnya, namun Dodi sudah bangun untuk berolahraga. Dengan tidak sadar kaki Dodi terus melangkah menuju rumah angker itu.Sekarang Dodi tepat berada di depan rumah itu. “Plak” bunyi jendela rumah itu yang terhempas. Seketika bulu kuduk Dodi berdiri.  Namun Dodi tidak langsung bergegas pergi. Dilihatnya pula ada bayang seorang wanita di jendela itu. Sekarang, ketakutan yang dirasakan Dodi sungguh dahsyat. Dodi lari terbirit-birit. Dodi tidak menghiraukan apa yang ada didepannya. “Gedebuk!!” bunyi hempasan tubuh Dodi yang terjatuh karena kulit pisang. Ntah berapa sumpah serapah yang dikeluarkan Dodi dengan kulit pisang itu. Padahal yang salah sebenarnya dirinya sendiri. Tidak berhati-hati. Ya.. Namanya juga ketakutan. Tidak memikirkan apapun yang ada. “Kamu kenapa Dod? Tampang mu jelek banget” ucap Deni yang kebetulan lewat. “Ini ni kulit pisang jelek! Orang yang makannya nggak bertanggung jawab! Dodi jadi korbannya!” ucap Dodi naik darah. Deni hanya tertawa mendengar ucapan Dodi. “Habis kamu nggak hati-hati sih! Emang  kamu habis ngapain Dod? ”Tanya Deni. “Habis dikejar setan!!” jawab Dodi. Deni pun terdiam, seketika wajahnya memucat. Ya.. Dedi. Temannya Dodi yang paling penakut hal beginian. Untuk buang air kecil saja, harus ditemanin mamanya ke WC. Jadi pantas saja reaksinya begini. Tanpa berbasa-basi lagi, Dodi menceritakan apa yang telah ia alami. Tidak ada reaksi sedikit pun dari Deni. Dodi pun segera meninggalkan Deni dan langsung menuju ke rumahnya.
            Sesampainya di rumah, Dodi menceritakan ulang yang barusan ia alami kepada mamanya. Mamanya hanya tertawa mendengar cerita itu. “Waduh anak mama, percaya hal begituan ya? Rumah itu nggak ada Hantunya sayang . Itu hanya rasa ketakutan kamu yang berlebihan ” ucap Mamanya. “Tapi ma, Dodi dengar dari orang-orang komplek kita gitu” sambung Dodi. “Ya.. Mereka itu hanya melihat dari bangunan rumahnya sayang. Rumah itu kan rumah tua. Makanya mereka berpikir gitu” ucap mamanya lagi. Dodi diam seribu bahasa. Dodi pun memutuskan untuk meyelidiki rumah itu. Dodi tidak peduli sendiri. Yang penting tahu kebenarannya saja, itu tujuan utamanya.Dodi menceritakan niatnya itu kepada teman-temannya. Teman – teman Dodi hanya menyemangati saja. Mereka semua takut melakukan hal beresiko seperti ini. “Tenang kok. Kami pasti bantu doa” itu saja ucapan dari teman-temannya.
            Dodi mulai menjalankan misinya. Dodi berusaha melawan rasa takutnya itu, bulu kuduknya berdiri, keringat dinginnya berkeluaran. “Ya Tuhan. Jaga Dodi. Dodi nggak mau mati secepat ini”   pikir Dodi dalam hati. Sekarang Dodi sudah berada di dalam pekarangan rumah angker itu. Perlahan-lahan ia menelusuri sekeliling rumah itu. Di lihatnya banyak tulang berserakan di halaman belakang rumah itu. Jantungnya semakin kuat berdetak. “Bagaimana kalau Dodi mati sekarang? Bagaimana kalau Dodi dimakan hantu dan tulangnya dibuang di halaman belakang rumah ini? Dodi masih ingin hidup. Dodi masih sayang keluarga, teman-teman. Dodi nggak mau mati dengan cara tragis begini” pikir Dodi dalam hati. Pikirannya hanya tertuju dalam 1 kata”MATI”. Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah itu terbuka. Dodi segera meninggalkan rumah itu bak dikejar setan. Keberaniannya memudar. Sejak saat itu, Dodi berjanji tidak ingin tahu lagi tentang rumah itu.
            “Dod. Kamu kenapa sayang? Badan mu panas kuat. Kamu sakit” Tanya Mama Dodi. Dodi hanya terdiam seribu bahasa. Sejak sampai di rumahnya, Dodi tidak ada berkata apapun dan Dodi pun memilih untuk berdiam di dalam kamarnya. Mama Dodi khawatir akan kondisi anaknya, ia pun memutuskan untuk menanyakan kepada Dedi kenapa anaknya itu. Ya.. jawaban Dodi hanya 1 kalimat. “Dodi tadi habis menyelidiki rumah angker itu te”. Mama Dodi tidak menyangka, betapa anaknya ingin tahu kisah rumah itu.
            Seminggu berlalu, kondisi Dodi pun mulai membaik. Merasa sudah fit , Dodi mengajak teman-temannya bermain sepak bola. Mau gimana lagi. Tempat satu-satunya yang bisa dijadikan lapangan sepak bola di komplek mereka hanya lahan kosong yang ada di samping rumah angker itu. Dengan terpaksa mereka bermain disitu. “Den, oper ke aku dong bolanya” ucap Dodi dipertengahan permainan itu. Setelah bola itu ada di Dodi, Dodi langsung menendangkan bola itu ke arah gawang lawan. “Pranggg!!!” bunyi kaca jendela yang pecah karena bola tendangan Dodi. Seketika permainan itu dihentikan. Mereka semua diam membisu sambil melihat ke arah jendela yang pecah kacanya. Tidak lama kemudian, ketakutan mulai menghantui mereka. Mereka semua langsung pergi meninggalkan tempat itu, terkecuali Dodi. Dodi tidak mau lari begitu saja dari kesalahan yang ia buat.
            “Tok, tok, tok” Dodi mengetuk pintu rumah itu. “Ada orang nggak?” ucap Dodi sambil sedikit berteriak. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Terlihat seorang nenek berdiri di situ. Dodi terkejut melihat nenek itu. “Ini manusia atau hantu ya?” pikirnya dalam hati. Mata Dodi dengan segera mencermati nenek yang ada dihadapannya itu. “Kakinya nyentuh lantai kok” pikirnya lagi. “Kamu anak yang mecahin kaca jendela saya kan” ucap nenek itu sambil tersenyum. Dodi mengangguk, Dodi pun segera meminta maaf kepada nenek itu. Nenek itu lalu  mengajak Dodi untuk masuk ke rumahnya. Walaupun sebenarnya Dodi masih takut. Namun Dodi menyetujui ajakan nenek itu. “Nek, sebelumnya Dodi minta maaf. Kok kata orang disini, rumah ini angker sih nek? Terus hampir tiap malam orang-orang disini mendengar suara yang  aneh” Tanya Dodi penasaran. Nenek itu menjelaskan semua kepada Dodi . “Gini nak. Mungkin orang-orang beranggapan karena rumah ini tua, sudah tidak terawat lagi. Trus tentang bunyi aneh itu, nenek memang suka lagu begitu. Itu lagu supaya nenek bisa tidur.  ” jawab Nenek. “Tetapi, kenapa nenek nggak pernah keluar rumah atau jalan-jalan sekitar komplek trus biasanya jendela nenek tertutup terbuka sendiri” Tanya Dodi lagi. “Nenek malas untuk keluar nak. Nenek nggak tahu kalau diluar nenek mau ngapain. Tentang jendela. Jendela nenek itu sudah rusak nak. Jadi itu karena angin ” jawab Nenek. “Nenek tinggal sendiri? Suami nenek mana?” Tanya Dodi. Nenek terdiam. Terukir wajah sedih di wajah nenek. Dodi menjadi tidak enak hati. Namun nenek tetap menjawab pertanyaan Dodi. Nenek berkata bahwa ia adalah perawan tua. Dodi pun menghentikan pertanyaannya Sekarang ia pun tahu . Tidak ada hantu, tidak ada rumah angker. Beberapa lama kemudian, Dodi memutuskan untuk pulang. Sejak saat itu, rumah nenek ramai karena teman-teman Dodi. Nenek pun merasa senang, nenek menjadi tidak kesepian lagi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Novel gak jadi (gak ada ide)


 Sahabat = tanda Tanya besar

Matahari sudah menampakkan dirinya dan menyinari setiap sudut kamar Shela, namun Shela belum juga tersadar dari tidurnya walaupun jam. Sudah menunjukkan jam.7 kurang 20 menit. Bagi Shela, bangun cepat itu hal yang sangat langka untuknya. Shela beralasan bahwa bangun cepat itu membuatnya lelah dan tidak bersemangat untuk beraktivitas di siang harinya. Shela pun paling anti dengan kata DIBANGUNKAN. Setiap kali ada orang yang berusaha untuk membangunkannya, Shela selalu cuek tidak peduli. Seseorang membuka tirai kamarnya Shela. Sinar matahari itu membuat silau mata Shela. Mau tidak mau Shela harus membuka matanya. Shela melihat Bi Ulan  sedang membuka jendela kamarnya.
‘’Ah bibi ni!!! Mengganggu kesenangan orang saja. Shela masih ngantuk! Capek! Bibi bisa ngerti Shela sedikit gak sih? Coba bibi jadi Shela. Awas lho kalau Shela lemes hari ini Bibi akan ku lapor ke mama!’’ bentak Shela. Sementara Bi Ulan, pembantu setianya keluarga Retno itu hanya bisa diam mendengar perkataan Shela. Bi Ulan sudah terbiasa mendengar caci maki Shela setiap hari, bisa dikatakan itu sudah menjadi makanan sehari-harinya Bi Ulan. Bi Ulan pun segera keluar dari kamarnya Shela.
*** Di ruang makan.
‘’ Mana Shela Bi?’’ Tanya Bu Retno.
‘’Hm.. Itu Nya, Non Shelanya masih gak mau bangun. Mungkin Non Shelanya kecapekan kali Nya’’. Jawab Bi Ulan.
‘’Ya ampun Shela!! Cewek kok tingkah lakunya gitu. Untuk bangun saja sulit dilakukannya. Saya heran dengan anak itu. Padahal hari ini jam.07.30 ia harus mengikuti test masuk SMP. Ya sudah Bi, biar saya saja yang membangunkannya’’ . Usul Bu Retno. Bu Retno pun segera bergegas menuju kamarnya Shela.
***
Saat di kamarnya Shela. Bu Retno terheran dengan kamar putri satu-satunya ini. Memang ia sudah jarang sekali memasuki kamar putrinya karena Bu Retno terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi Bu Retno harus bekerja keras sendiri membiayai kebutuhan keluarganya. Suaminya sudah meninggal setahun lalu.  Namun ia tidak percaya bahwa kamar Shela sangatlah berantakan. Kulit kacang bertebaran dimana-mana, sampah-sampah pun begitu juga, pakaian yang seharusnya berada di lemari bergantung dimana-mana. ‘’Bak kapal pecah’’ sebuah argument yang ada dipikiran Bu Retno untuk melukiskan kamar Shela ini. Bu Retno terdiam sejenak, ia manyalahkan dirinya sendiri yang kurang memperhatikan anaknya sendiri akhir-akhir ini dan air matapun kunjung datang membasahi wajahnya yang beroleskan kosmetik itu. Bu Retno pun melihat-lihat foto-foto yang terpajang di meja belajar Shela. Matanya pun menuju ke sebuah foto pada waktu hari ulang tahun Shela yang ke-10. Di foto itu terdapat ia, Shela dan suaminya. Begitu gembiranya ketiga wajah tersebut.
Shela pun bangun dari tempat favoritnya, ia pun terkejut melihat mamanya yang sedang duduk terdiam sambil memandangi sebuah foto yang ada di meja belajar itu.
‘’ Mama?’’ sapa Shela.
Dengan segera Bu Retno menghapus air matanya yang bercucuran. ‘’ Shela, kamu sudah bangun sayang?’’ Tanya Bu Retno sambil berusaha menyembunyikan rasa kesedihannya itu.
‘’ Iya Mama. Tumben mama ke kamar Shela?’’
‘’Hm, tadi mama mau bangunin kamu sayang. Kamu udah mau telat tu sayang, kamukan hari ini ada test untuk masuk sekolah yang kamu impikan sayang. Cepetan mandi sana! Testnya bentar lagi dimulai. Ntar mama yang mengantar kamu’’ kata Bu Retno.
Dengan segera Shela menuju ke kamar mandi. Walaupun Shela bisa dibilang keras kepala dan sangat cuek, namun apabila mamanya yang menyuruhnya Shela selalu menuruti apa yang mamanya suruh. Bagi Shela , mamanya adalah Superhero.
***
Bu Retno melambaikan tangan setelah Shela turun dari mobilnya. Shela pun demikian, karena jarang-jarang sekali  ia diantar oleh mamanya setelah ayahnya tiada. Shelapun  melangkah dengan wajah ceria menuju ke SMP PELANGI. Sebuah SMP favorit yang ada di kota tercintanya. Untuk masuk di SMP ini, murid-murid harus mengikuti berbagai test yang terdiri dari 3 test : Test akademik, Test psikotes dan Test Wawancara dan katanya juga sekolah ini banyak sekali mengukir prestasi di bidang akademik maupun non akademik . Tidak heran sekolah ini menjadi incaran orangtua yang ingin anaknya menjadi salah satu murid sekolah tersebut. Begitu juga dengan Shela. Sekolah ini merupakan salah satu impiannya yang harus ia wujudkan. Shela pun sudah mempersiapkan dirinya secara matang untuk menjalani semua tes pada hari ini agar ia bisa masuk di sekolah ini.
*** Di ruang test.22
Shela duduk di tempat yang sudah tercantum nomor peserta dirinya. Ia melihat murid-murid dari sekolah  lain yang mempunyai tujuan sama seperti dirinya, lulus menjadi murid SMP Pelangi. Shela menjadi merasa minder dengan murid-murid itu. Karena rata-rata mereka semua berasal dari SD terkenal yang ada di daerahnya. Perasaan gugup menghantui dirinya.
 Tidak beberapa lama kemudian, seorang laki-laki yang memakai kemeja biru memasuki ruangan Shela, ruangan nomor 22. Wajah orang itu terlihat garang. Murid-murid lain yang tadinya sedang mengobrol, main ataupun lainnya. Segera terdiam ketika seorang laki-laki itu masuk. Laki-laki itu langsung mengucapkan selamat pagi dan langsung memperkenalkan dirinya.
‘’Selamat pagi! Saya adalah salah satu guru yang mengajar di SMP Pelangi ini. Nama saya Datinus, S.Pd. Kalian semua bisa panggil saya Pak Dat.  Kalau kalian diterima di sekolah ini, kalian akan bertemu saya di pelajaran Matematika’’ Ucap Pak Dat . Sebuah perkenalan yang sangat singkat.
Murid-murid tidak ada yang berkomentar apapun tentang perkenal Pak Dat itu. Pak Dat pun lalu menjelaskan bagaimana tatacara pengisian test itu. Ia juga membacakan peraturan-peraturannya. Setelah itu, test pertama pun dimulai. Semua murid-murid mengerjakan soal demi soal dengan serius tanpa ada suara sedikit.Tidak ada aksi saling mencontek.  Karena pengawasnya seram seperti ini, yang membuat semua murid takut. Setiap pikiran murid-murid yang ada di ruangan itu pasti sama ‘’Boro-boro mau mencontek, bergerak saja susah’’.
***
Bel berakhirnya waktu untuk mengerjakan test pertama berakhir. Semua murid langsung mengumpulkan lembar jawaban mereka tanpa bersuara. Pengawas ruangan Shela pun berkata bahwa  mereka diberikan waktu 15 menit untuk  istirahat sejenak sebelum mengikuti tes yang ke-2, psikotest. Beberapa murid yang ada di ruangan Shela menuju ke kantin, namun ada juga yang tetap diam di tempat mereka masing-masing. Begitu pula dengan Shela. Ia hanya terdiam di bangkunya. Seorang murid cewek menghampiri Shela.
‘’Hallo? Bagaimana test tadi? Kamu bisa jawab?’’ Tanya seorang murid cewek yang memakai pita ungu itu.
‘’Hm, lumayan, Ada beberapa soal yang aku gak ngerti’’ .
‘’Oh.. Iya. Aku juga gitu kok! Oh iya, kenalin. Nama aku Dewita Cici. Kamu bisa panggil aku Cici’’ sambung Cici lagi.
‘’Aku Shela Claudia. Kamu bisa panggil aku Shela’’.
Mereka pun asyik mengobrol. Walaupun mereka baru saja kenal, mereka seperti sudah lama bersahabat. Namun bunyi bel tanda berakhirnya istirahat itu, memutuskan pembicaraan mereka. Cici pun segera kembali ke tempat duduknya.
Seperti sebelumnya, setiap pengawas yang masuk ruangan mereka. Pertama kali pasti memperkenalkan dirinya dan dilanjutkan dengan menjelaskan cara pengisian test yang mereka ikuti. Test kedua merupakan test psikotest. Test yang menurut Shela sangat membingungkan. Shela membaca soal yang pertama :  ‘’Kalong, polong,….’’
Shela menggaruk kepalanya. Bukan karena gatal namun karena soalnya sangat aneh menurutnya. ‘’Soal apaan gini? Aneh banget’’ pikir Shela dalam hatinya. Di tulisnya sebuah kata “KOLONG”. Shela tertawa melihat jawabannya. “Sumpah! Ngasal banget” pikirnya.
Waktu demi waktu berjalan, tinggal 15 menit lagi kesempatan setiap murid untuk menjawab test itu. Shela pun sudah sampai ke soal yang terakhir. Yang perintahnya harus membuat sketsa wajahnya sendiri. ‘’Ya Tuhan. Kenapa ada disuruh menggambar sih? Sudahlah aku gak tahu menggambar. Gambaran anak SD kelas 2 saja lebih bagus dari gambaran aku’’ kesalnya. Tanpa basa-basi lagi Shela segera mengambil pensil 2Bnya. Di gambarnya sketsa wajahnya walaupun mirip gambaran anak TK.’’Akhirnya selesai juga! Gambar jelek gak apa-apalah. Yang penting usahanya’’pikirnya. Bel pun berbunyi.
Tretttttttttttttttt!!!!!!!! Semua langsung bergegas mengumpulkan jawaban mereka.
‘’Untuk test selanjutnya adalah test wawancara. Kalian tunggu saja di ruangan ini. Jangan berkeliaran kemana-mana dulu. Nanti ada pengawas yang akan memberi kalian sebuah instruksi’’ kata pengawas yang mengawasi mereka di test barusan.
***
“Arght!! Akhirnya” ucap Shela. Semua test telah berakhir. Otak Shela serasa penuh. Kepalanya pun menjadi pusing. Apalagi tadi waktu wawancara ditanya soal sahabat. Bagi Shela, sahabat itu tidak ada. Shela tahu argumennya itu tidak disetujui orang-orang, namun ya itu bagi Shela. Tidak heran kalau Shela sulit untuk menjawabnya. Shela harus menggambarkan bagaimana sahabat itu dengan penjelasan palsunya. Dan Shela juga ditanya tentang apakah iya mempunyai sahabat? Shela menjawab iya. Walaupun kenyataan nya itu tidak ada. Dulu memang dirinya mempunyai sahabat, namun terjadi sesuatu hal yangb membuat Shela tidak menginginkan sahabat lagi. Seseorang yang dianggapnya sahabat dulu. Telah meninggalkannya begitu saja. Tanpa kabar. Tanpa sebab. Sejak saat itulah Shela tidak mengenal arti kata Sahabat.
***
‘’Gimana sayang, kamu bisa ngerjain semua soalnya?’’ Tanya Bu Retno di dalam mobil merahnya,
Shela hanya mengangguk tanda bisa. Shela sibuk dengan game yang ada di HPnya. Shela tidak ada berinisiatif untuk berbicara apapun dengan mamanya saking asyiknya bermain.
Mobil merah Bu Retno terpakir mulus disebuah café. Namun Shela tidak menyadari itu, ia tetap saja tidak beranjak dari permainan di HPnya itu.
‘’Shela, kita makan dulu yuk? Mama yakin kamu pasti sudah lapar banget kan?’’.
Shela menyimpan HPnya itu ke saku baju seragamnya yang ia kenakan dan langsung melihat sbuah café yang ada di depannya. ‘’WAH! Mama baik banget sih. Tahu saja Shela lagi lapar. Tempatnya tepat kesukaan Shela juga tu. Sudah lama ya ma, kita gak kesini?’’ ucap Shela. Shela langsung menarik tangan mamanya. Shela tidak sabar lagi makan di tempat yang menurutnya sangat mempunyai arti bagi dirinya dan juga mama + ayahnya. Meskipun sekarang mereka makan di café itu tanpa ada ayahnya.




*** Seminggu kemudian.
Shela berlari menuju papan pengumuman dan langsung menerobos gerombolan murid lainnya yang juga ingin melihat hasil test untuk masuk SMP Pelangi ini. Di pandangi kertas putih di depannya yang bertuliskan nama-nama calon murid SMP Pelangi yang lulus. Di carinya namanya.
  ‘’SHELA CLAUDIA = LULUS’’.
 Shela pun segera menjauh dari papan pengumuman itu yang mulai penuh dengan murid-murid lain yang juga ingin melihat apakah mereka diterima atau tidak. Aksi saling dorong pun mewarnai pemandangan di depan papan pengumunan tersebut.
 ‘’Untung saja. Aku pagi berangkat dari rumah J jadinya gak terlalu berdesak-desakan’’ pikir Shela. Kesenangannya diterima menjadi murid SMP Pelangi tidak dapat diungkapkan dengan kata apapun. Sebuah impiannya menjadi kenyataan.  Shela pun segera menuju ke mobil mamanya.
“Ma, Shela gak lulus ma” ucap Shela membohongi mamanya “Gak apa-apa ya ma?”
“Mama kecewa sama kamu Shela. Tapi gak apa-apalah, mungkin kamu memang gak bisa sekolah di SMP Pelangi ini. Mungkin ada sekolah yang lebih baik untuk kamu sayang” jawab Bu Retno.
“Shela bohong mama!!!! Shela LULUS tahu “ucap Shela lagi.
“Dasar kamu nakal!” .  ucap Bu Retno sambil memeluk anak satu-satunya itu sambil berkata “Mama bangga punya anak seperti kamu sayang”.












** *                                        
Masa Orientasi Siswa (MOS) . Mungkin bermacam-macam pendapat kita tentang apa itu MOS. Yang pasti ada disetiap pemikiran murid baru bahwa MOS adalah masa dimana kita dikerjain oleh para senior. Hari ini adalah hari pertama Shela masuk SMP dan kewajiban bagi setiap murid baru kelas 1 yaitu mengikuti MOS, begitu juga dengan Shela.
***
Shela turun dari mobil mamanya dengan atribut MOS yang harus digunakan oleh setiap peserta MOS. Rambut di ikat 12 ikatan untuk wanita, untuk pria harus botak(jadi adik beradiknyan upin ipin), memakai topi dari polybag, membawa papan nama dari kardus yang ukurannya besar, membawa karung, memakai kaos kaki hitam-putih, kaki di ikat dengan kaleng bekas minuman bersoda dan didalamnya diberi kelereng (yang menimbulkan bunyi-bunyi aneh saat kita berjalan), memakai kalung dari petai,memakai kacamata dari jengkol dan di mulut terdapat ompeng seperti anak bayi.
“Bak orang gila” pikir Shela.
 Shela malu-malu berjalan menuju halaman sekolah barunya itu. Di liriknya setiap orang yang ia lewati tertawa kecil kepadanya, mereka sepertinya adalah kakak-kakak   kelas yang sudah siap untuk membuat adik-adik kelasnya ini tersiksa . Shela beranggapan seperti itu karena memang tampak dari wajah mereka.
“Perhatian ! Bagi seluruh murid baru harap segera berkumpul dilapangan sekarang , karena kita akan mengadakan upacara pembukaan MOS” sebuah pengumuman yang terdengar dari mic sekolah. Pengumuman itu berkali-kali di umumkan. “Kenapa harus diumumkan berulang-ulang sih? Sekali saja kami sudah dengar kok” oceh Shela dalam hati. “Adek yang disana segera masuk barisan!! Saya hitung dari sekarang. Kalau belum masuk barisan pada hitungan ke-3, saya akan memberi mu hukuman!” perintah seorang senior kepada Shela. Dengan segera Shela berlari menuju barisan dengan bersungut-sungut. Karena tergesa-gesa Shela tidak memperhatikan betul apa yang ada di depannya. Shela menabrak seorang murid laki-laki yang berkacamata. “Gubrakk!!” tubuh Shela terjatuh ke tanah.
“Kalau jalan pakai mata dong! Jangan pakai dengkul!” maki Shela.
Murid laki-laki itu hanya diam, namun di dalam hatinya ia merasa bingung .Padahal kan yang menabraknya cewek itu. Jadi bukan ia yang salah? Murid laki-laki itu pergi beitu saja. Ia tidak mau memperpanjang masalah sepele ini. Karena ia bukan tipe cowok yang suka berkelahi, apalagi dengan ciptaan tuhan yang paling indah ini.
Seluruh mata murid lainnya memperhatikan keributan yang dibuat oleh Shela. Padahal hanya hal sepele. Ada yang tertawa kecil, berbisik-bisik, dan ada yang memandang sinis. Namun Shela tidak peduli, Shela segera bangkit berdiri dan masuk barisan seperti murid-murid lainnya. “Kenapa kok hari ini aku sial terus ya?” Tanya Shela dalam hatinya. Tidak jauh dari tempat Shela berbaris, terdapat sepasang kembaran yang juga seangkatan seperti Shela . Shela terus memandang seoasang kembaran itu, sampai-sampai ia tidak memperhatikan sama sekali apa yang terjadi di tengah lapangan. Shela mencari-cari hal yang membuat mereka bisa dibedain oleh orang lain itu apa. Shela senyum-senyum sendiri, ntah apa yang ada dipikiran Shela saat ini.
***
Upacara dimulai. Semua murid baru mengikuti upacara tersebut dengan hening. Maklumlah baru sehari menjadi murid SMP. Jadinya sikap tukang rebut, suka gossip belum terlihat  diantara mereka. Masih pada malu-malu. Seperti ada kata orang bilang “Malu-malu kucing”.
Tibalah bagian dari susunan upacara yang sangat membosankan bagi Shela “Amanat Pembina upacara ”. Begitu barisan diistirahatkan oleh komandon upacara, seorang guru yang menjadi Pembina. Segera memberikan sejuta amanatnya dan  sejuta orasinya. “Ya, Tuhan bapak Pembina. Bisakah anda mengerti bahwa murid-muridmu pada kepanasan? Oleh sebab itu, ngomongnya jangan panjang-panjang dong pak” oceh Shela dalam hatinya. Tidak ada kerjaan lain yang Shela lakukan. Hanya berkomentar tentang suatu hal yang menurutnya janggal saja. Kalau misalkan ocehannya itu ditulis, mungkin sudah menjadi sebuah novel J .
***
Prok, prok, prok. Tepuk tangan menyelingi dibukanya secara resmi MOS itu. Dan tanda berakhirnya upacara pembukaan MOS itu. Salah satu kakak senior pun maju kedepan dan  membacakan pembagian kelas bagi para murid baru dan ia juga mengumumkan bahwa namanya yang dipanggil harap maju kedepan dan berbaris sesuai ketentuan. Pembacaan pembagian kelas itu dimulai dan dimulai dari kelas 7A. Tidak beberapa lama kemudian , nama Shela pun terdengar.
“SHELA CLAUDIA” .
Begitu namanya dipanggil, Shela dengan segera maju kedepan dan berbaris seperti ketentuan yang telah kakak seniornya perintah.
Setelah nama-nama penghuni baru kelas 7A selesai dibacakan. Koor kelas Shela dengan segera mengajak murid-murid baru lainnya untuk masuk ke kelas mereka . Mereka menuju kelas barunya dengan tertib dan berbaris. Kalau diibaratkan, seperti anak bebek J
 “Adik-adik ini kelas kalian!!!” kata seorang koor kelas kami sambil menunjukkan kelas yang ruangannya  +paling ujung. Sebuah ruangan yang sangat dekat dengan ruang Kepala Sekolah dan kantin. “Strategis sekali kelas baruku”pikir Shela. Di depan ruangan yang koor kelas 7A tunjukkan itu, tertera papan nama kelas “7A”.Semua murid pun langsung masuk dan mencari tempat duduk masing-masing. Kelas itu bercatkan cream dengan ber-liskan coklat, dengan ber-kipas angin gantung 2, dan tanpa pintu + jendela. Tentang kelas tanpa pintu dan jendela? Yah. Itulah kekhasan dari SMP Pelangi. Ruangan kelasnya memang didesign terbuka demikian. Namun masih ada pembatasan dinding antara teras kelas dan dalamnya. Alasan pihak sekolah men-design demikian, supaya para murid dapat berpikir lebih jernih lagi. Bukan karena pelit, bukan juga karena  kurangnya dana  . Di dalam kelas itu terdapat 18 kursi, 17 meja belajar  dan 1 meja guru.
***
PERKENALAN. Seperti ada kata pepatah tak kenal, maka tak sayang.
Nah pada pertemuan pertama MOS. Selalu diadakannya perkenalan, khususnya antar teman sekelas. Begitu pula di kelas Shela, murid-murid memperkenalkan dirinya didepan. Ada yang suaranya besar, ada yang suaranya kecil, ada yang putih, ada yang hitam, ada yang pendek, dan ada yang cantik. Beragam karakteristik teman-teman sekelas Shela. Setelah itu, koor kelas mereka menjelaskan apa sih itu MOS. Dan pada akhir penjelasannya itu, koor kelas juga tidak lupa mengumumkan bahwa setiap murid baru, peserta MOS harus mendapatkan tanda tangan para kakak senior mereka. Alasannya, karena dengan demikian para murid baru ini bisa lebih akrab dengan kakak-kakak seniornya dan juga agar mereka dapat belajar mandiri. “Segala sesuatu itu perlu usaha dan takti. Oleh karena itu, kalian harus bisa masih  mengambil hati para senior. Dan saya beri tanda kutip, bahwa mengambil hati kakak senior itu artinya membuat mereka mau memberikan kalian tanda tangan. Turuti apa yang mereka mau, asalkan itu masih dalam batas kewajaran, laukanlah!. Jangan meminta tanda tangan pada waktu para kakak senior kalian sedang makan”  sebuah kalimat dari beribu-ribu penjelasan koor kelas Shela yang dapat ia ingat sampai sekarang.
***
Mulai setelah koor kelasnya Shela memberikan sebuah penjelasan itu dan memberi intruksi bahwa mereka harus dari sekarang mencari tanda tangannya . Para murid kelas 7A segera bergegas meminta tanda tangan kesana-kesini. Begitu pula dengan murid-murid kelas lainnya. Tidak ada yang mau kalah tentang ini. Begitu pula dengan Shela, Ia tidak mau kalah dengan lainnya. Shela selalu menuruti  semua perintah yang disuruh kakak seniornya demi mendapatkan tanda tangan. “Lebih baik kejar sana, kejar sini cari tanda tangan daripada dihukum” pikirnya. Di dalam dirinya pun tidak ada kata “GIVE UP”. Nyerah? Mati aja lu! Itu motto nya dalam mengejar tanda tangan. Kalau dapatin kakak senior yang gak pelit sih, no problem. Tapi kalau yang rese’, itu yang membuat sakit hati.
Bagi adik-adik kelas sih ini sangat melelahkan, namun bagi para kakak senior yang cewek maupun cowok. Disinilah kesenangan mereka , bak artis dikejar untuk hanya minta tanda tangan. Yah seperti jadi artis seharilah J  . tidak hanya sebagai ajang mereka jadi artis sehari. Dengan ini mereka pun bisa mencari target adik kelas yang akan dijadikan pacar mereka.
***
“Kakak. Minta tanda tangannya dong!!” ucap Shela kepada kakak seniornya yang sedang duduk di dekat lapangan basket. Alvin, kakak seniornya Shela tersenyum. Begitu melihat Shela, Alvin langsung tertarik kepadanya. Magnet cinta didalam dirinya seolah-olah menariknya untuk menyukai cewek yang ada dihadapannya sekarang. Shela memang sangat cantik, selain putih, Shela mempunyai wajah campuran yang didapatinya dari turunan ayahnya orang Jerman Asli. Jadi tidak heran Shela pun mendapat imbasnya. Seperti kata pepatah. “Buah jatuh tidak jauh dari induknya”.
“Mana bukunya?” Tanya Alvin.
“Ini kak” jawab Shela sambil mengulurkan buku tanda tangannya.
“Ini sudah”
“Shela harus ngapain kakak syaratnya?” Tanya Shela. Alvin hanya tertawa kecil.
“Kamu polos sekali. Ini kakak kasih gratis buat orang secantik kamu. Namamu siapa?”.
“Hm. Saya shela kak .Makasih ya kak. Shela pergi dulu ya kak?”. Ucap Shela bergegas beranjak dari lapangan basket itu. Shela langsung menuju ke gerombolan 4 orang teman barunya. 
 ***
“Akhirnya! Ini adalah kegiatan terakhir MOS” pikir Shela dalam hati.
Jam. Tepat menunjukkan pukul 15.00 artinya ini adalah jadwal kegiatan MOS yang terakhir yaitu menjelajah. Sebelum dimulai, kakak kakak senior membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Dan kakak senior itu juga menjelaskan bahwa ada 4 pos yang harus mereka lewati. Di setiap pos terdapat sebuah intruksi yang akan diberikan oleh kakak senior yang menjaganya.  Penjelajahan pun dimulai dari kelompoknya Shela yang diberi nama kelompok”KUCING GARONG”. Ntah dasar apa kakak senior itu memberi nama itu.
Di pos pertama, saat mereka tiba. Mereka diberikan sebuah intruksi. Intruksinya adalah wajah mereka harus  diberi masker dari arang. Panasnya terik matahari membuat wajah mereka yang diberi arang menjadi lebih panas. Mungkin ntah berapa banyak jerawat yang akan disebabkan oleh masker alami dari arang ini. Namun instruksinya tidak hanya itu, mereka juga harus menghabiskan petai yang diberi kakak senior 1 peserta 1. Shela pun memucat. Seumur-umur Shela tidak pernah makan namanya petai itu, Shela pun baru pertama kali mengetahui bahwa inilah namanya petai. Menurut argument-argumen yang Shela pernah dengar. Bahwa petai itu membuat mulut bau dan rasanya pun aneh. Shela paling anti dengan makanan yang membuat mulut menjadi bau . Karena Shela sangat menjaga penampilannya. Penampilan itu number one baginya. Namun karena ini adalah intruksi MOS yang harus wajib diikuti, Shela pun memaksakan dirinya untuk memakan petai itu walupun sedikit demi sedikit. Namun memang perutnya sedang tidak bisa diajak kompromi saat itu. Shela mengeluarkan kembali petai yang ia makan barusan. Karena tidak tega melihat Shela, kakak senior yang menjaga pos 1 itupun menyuruh agar Shela berhenti memakan petai itu. “Bahaya anak orang. Daripada membuat anak orang sakit. Baik cari amannya saja deh!” pikir kakak senior itu.
Beranjak dari pos 1, kelompok Shela pun tiba di pos 2 . Di pos 2 mereka harus menciptakan sebuah yel-yel. Dan Mereka pun menciptakan sebuah yel-yel yang gokil sekali dan gaya yang kocak, sehingga membuat kakak yang menjaga pos itu tertawa terbahak-bahak. Begini liriknya :
(memakai nada kucing garong)
Kelompok kucing garong
Paling oke, dan paling gokil
Siapa yang lihat pasti gak tahan
Hayo coba lawan kami
* Sambil berjoget-joget tidak jelas.
***
Akhirnya setelah mereka melewati semua pos, dari pos 1 sampai pos 3. Tibalah mereka ke pos terakhir, pos 4. Di pos terakhir ini tidak ada intruksi dari kakak senior. Namun mereka harus dimandikan dengan air kecap+susu basi+air bekas ngepel  lantai. Yang menunjukkan bahwa mereka secara sah diterima menjadi murid SMP Pelangi. Walaupun kotor. Para kakak senior tidak peduli, mau tidak mau harus mau kata para senior itu. Dan akhirnya semua murid baru yang sudah mengikuti semua kegiatan MOS sudah resmi menjadi murid SMP Pelangi.
***
MOS sudah dilaksanakan pada hari sebelumnya. Dan pada hari ini adalah hari pertama bagi mereka terbebas dari MOS itu. Belum ada terlihat proses belajar-mengajar, karena jadwal pelajaran belum tersusun rapi. Demikian juga yang terjadi di kelasnya Shela. Pada hari awal mereka hanya  mengadakan perkenalan-perkenalan dengan sesama teman maupun guru ataupun wali kelas mereka. Kebetulan yang menjadi wali kelasnya Shela adalah Bu Weni, seorang guru muda yang masih single. Dan berkulit kuning langsat. Bu Weni terkenal di sekolah mereka sebagai guru yang sangat baik. Memang terlihat dari wajahnya. Teduh. Penuh dengan keramahan dan kesabaran. Namun kadang para murid-murid tidak menggunakan sisi baik Bu Weni tersebut. Terlalu baiknya Bu Weni kadang disalah artikan sebagian murid-murid. Mereka jadi seenaknya dengan Bu Weni.
 Di sela-sela gaduhnya kelas Shela. Tiba-tiba Bu Weni, wali kelas mereka, masuk. Semua aktivitas siswa masih saja dilakukan oleh setiap individu. Mereka tidak menyadari Bu Weni ternyata ada di kelas mereka. “Anak-anak tenang!” perintah Bu Weni itu pun segera dipatuhi setiap murid yang ada di kelas itu tanpa ada yang menyangkal (maklum masih beberapa hari jadi murid SMP).
“Pada hari ini kita akan memilih perangkat kelas, membuat jadwal piket  dan juga ibu akan mengatur posisi duduk kalian” sambung Bu Weni .
Murid-murid pun menjadi gelisah setelah Bu Weni menerangkan bahwa Bu Weni akan mengatur posisi duduk mereka. Yang artinya mereka akan berpisah dengan teman sebangkunya awal yang mereka pilih sewaktu MOS kemarin.
“Kenapa sih guru-guru jarang memberikan kebebasan untuk murid-muridnya memilih teman sebangku sediri? ” ucap Shela dalam hati. Shela berkata demikian karena Shela sudah merasa cocok dengan teman sebangku yang dipilihnya sewaktu MOS itu. Tentang teman sebangku awal Shela. Ia adalah Arini Yuningtias. Anak manager salah satu perusahaan yang ada didaerahnya. Arini panggilan akrabnya. Arini memiliki postur tubuh yang tinggi dan langsing. Namun Arini sedikit tomboy. Itu bisa dilihat dari potongan rambutnya yang mirip dengan”Myta The-Virgin”. Arini mempunyai hobby bermain basket. Dari perbincangan sebelumnya antara Shela dengan Arini sih, Sepertinya Arini memang sangat piawai memainkan bola basket. Itu Shela tarik kesimpulan dari cerita Arini yang katanya sering kali membawa harum sekolahnya di berbagai kompetisi.  Bagi Shela , Arini itu cewek yang unik. J
***
“Shela! Kamu pindah disamping Romi!” perintah Bu Weni . Shela yang awalnya sibuk dengan permainan SOS nya segera menuruti perintah Bu Weni tanpa berbicara apapun. Namun dalam hatinya, Shela merasa tidak terima harus duduk dengan Romi. “Kenapa harus duduk dengan mahkluk seperti ini? Yang ngeselin tak karuan. Yang nabrak aku waktu MOS dan tidak meminta maaf juga” pikir Shela dalam hati. Sebenarnya sih Shela ingin protes. Namun Shela sungkan karena takut bakalan dibilang angkuh.
***
“ROMI” sebuah nama itu melintas dipikiran Shela pada waktu jam. Istirahat. “Kalau dipkir-pikir sih Romi itu cakep banget. Anak orang kaya pula.’’ Pikir Shela sambil senyam-senyum.
“Hey!!!!!!” kejut Arini yang membuat lamunan Shela membuyar. Shela pun langsung memperlihatkan reaksi terkejutnya.
“Dasar kamu ni! Kalau aku jantungan. Kamu mau tanggung jawab?” ucap Shela sambil tersenyum.
“Habis. Daritadi Arini lihat. Shela senyum-senyum sendiri sih. Arini kira kamu kesambet. Hayoo!! Mikirin siapa tu?” Tanya Arini.
Shela hanya tertawa dan tidak sama sekali mau merespon pertanyaan Arini. Namun dalam hatinya Shela , ia merasa malu sudah tertangkap basah senyam-senyum sendiri karena mikirin Romi. Walapun Arini tidak tahu apa yang Shela pikirkan saat itu.
*** Malam harinya.
Shela menghempaskan tubuhnya ke singasana favoritnya. Di ambilnya sebuah majalah remaja. Dibukanya halaman demi halaman majalah itu. Sekali-kali ia berkomentar terhadap gambar yang terdapat di majalah itu. Dan Shela pun membuka halaman tentang ramalan ZODIAK. Di carinya zodiaknya, yaitu Taurus . Kebetulan Shela lahir pada zodiak itu tepatnya tanggal 5 Mei.
TAURUS
Umum : Pada minggu ini, anda terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari anda. Coba rileks sejenak menghilangkan kepenatan yang ada. Dan berikan perhatian terhadap setiap orang yang ada disekitarmu.
Asmara : Cinta itu memang kadang kita tidak mengetahui apa arti sebenarnya. Pada minggu ini, ada seseorang yang berusaha dekat sama kamu. Berikan ia kesempatan.
Karier : Orang disekitar anda bisa membuat karier anda semakin bagus.


Demikianlah kalimat yang tertulis dalam Zodiak Taurus majalah remaja tersebut. Shela tersenyum setelah membacanya.”Itu artinya aku akan bisa mengenal cinta?” pikir Shela.
Shela mengambil  HPnya yang memakai profil silent. Di lihat layar HPnya. Di layar HPnya tercantum 3 panggilan tak terjawab. “Nomor baru. Siapa ya kira-kira? hm. Mungkin saja Arini, Sendy, ataupun… Hah. Entahlah” tebak Shela. Di kirimnya sebuah pesan singkat untuk nomor baru itu. Tidak berapa lama kemudian. Pesan singkat Shela dibalas oleh nomor baru itu. “Kau bidadari yang ku nanti. Aku percaya cinta pada pandangan pertama itu memang ada. Kamu akan tahu siapa aku suatu hari nanti. By penggemar rahasia mu ” isi balasan pesan singkat yang ditujukan untuk Shela. “Dasar orang aneh! Masih jaman ya pakai penggemar rahasia seperti itu” kesal Shela. Shela pun beranjak dari kasur kesayangannya itu dan menuju ke sebuah DVD yang ada di kamarnya itu. Dvd yang sudah lama tidak digunakannya. Kemudian Shela memilih-milih  CD yang akan diputarnya sekarang.
“Gita Gutawa” sebuah nama seorang penyanyi remaja cantik yang tertulis di cover CDnya itu. Ia putar CD lagu itu. Shela memilih CD ini, karena ia merasa lagu-lagu Gita Gutawa itu mempunyai makna yang sangat mendalam baginya, yang bisa menyentuh hatinya. Lagu pertama dari album Gita Gutawa pun mengalun memenuhi setiap sudut kamarnya Shela.
Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
 Indahnya saat itu, buat ku melambung disisi mu
Terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
 Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Begitulah lirik pertama lagu “Yang terbaik bagimu”  itu. Shela sangat hapal betul dengan setiap lirik yang ada pada lagu ini. Di ikutinya lagu ini dengan penuh penghayatan. Saking merasa tersentuh hatinya, air mata mulai sedikit demi sedikit menetes di pipinya yang itu.shela menjadi teringat dengan alm. Ayahnya. “ Andai ayah masih ada” ucapnya. Lagu itu di putarnya berulang-ulang. Shela masih ingin mengenang ayahnya walaupun air matanya semakin banyak berjatuhan. Di pandanginya foto ayahnya yang terpampang di meja belajar pinknya itu. Di ambilnya lalu dipeluknya. Shela sangat merindukan sosok seorang ayah. Shela pun menangis sekuat-kuatnya. Hanya itu yang dapat ia lakukan. Ia juga berkeluh kesah.
 “Tuhan, kenapa sih Tuhan harus ambil ayah Shela secepat itu? Shela masih memerlukan sesosok orang seperti ayahnya Shela, yang begitu sayang pada Shela. Walaupun ada mama, itu tidak cukup bagi Shela Tuhan? Kenapa Tuhan gak ngambil Shela juga, biar sama-sama disana Tuhan. Tuhan, Shela mohon jagain ayah Shela baik-baik disana yah? Mama dan Shela selalu berdoa untuk ayah kok. Mama dan Shela tidak pernah lupain ayah. Ayah tenang saja! Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah.” Ucap Shela dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang membuat Shela bergegas menghapus air matanya dan langsung mematikan DVD nya itu. “Non, non, makan malam non. Nyonya udah nunggu non di ruang makan  non” terdengar suara Bi Ulan dari balik pintu kamarnya Shela.
Shela segera menjawab Bi Ulan. “Shela udah kenyang bi. Tadi di sekolah Shela jajan banyak. Jadinya sekarang belum laper bi”.
Bi Ulan pun pergi. Shela mendengar suara hentakan kaki Bi Ulan yang semakin menjauh dari kamarnya. Shela lega Bi Ulan tidak mengetahui ia sedang menangis teringat ayahnya. Karena Shela takut kalau saja Bi Ulan tahu, Bi Ulan akan menceritakannya kepada mama. Yang artinya Shela akan dimarahi karena masih saja menagis-nangis tidak jelas seperti itu. Padahal kepergiaan ayahnya sudah setahun yang lalu. Shela tahu, mamanya tidak mau Shela  jadi pemurung mikirin ayahnya, makanya Bu Retno tidak ingin Shela larut dengan kesedihannya itu.
“Kriuk, kriuk, kriuk”
Bunyi suara yang berasal dari perutnya Shela. Cacing yang ada di perutnya mulai demo. Sebenarnya,  tadi Shela berbohong kalau sudah kenyang. Tetapi apa boleh buat. Daripada ntar ia ketahuan nangis oleh mamanya dan diberi seribu nasehat.
***
Setelah menyelesaikan makan malamnya. Bu Retno segera bergegas ke kamar Shela.
Bu Retno membuka kamar Shela anak tersayang satu-satunya ini. Dilihatnya Shela sudah tertidur pulas sambil memegang sebuah foto. Bu Retno mengambil foto yang ada di tangannya Shela. Dilihatnya, foto suaminya yang sedang menggendong Shela, yang diambil sekitar umur Shela masih 5 tahun lalu. Tanpa  Bu Retno sadari air matanya mulai bercucuran. Di elusnya kepala Shela sambil memandangi wajah lucu putrinya itu. Di pasangkannya selimut di tubuh Shela dan di kecupnya kening Shela. “Selamat malam sayang”. Bu Retno pun pergi dari kamar putrinya itu.
***
“Ayah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Shela dalam mimpinya itu.
Shela pun terbangun dan langsung menangis. “Ayah tega tinggalin Shela”.
Di lihatnya jam. Jam masih menunjukkan pukul 01.00 subuh. Bisa dikatakan terlalu awal untuk dirinya bangun. Matahari saja belum kelihatan sedikit pun. Shela bingung apa yang harus ia lakukan. Sekitar 30 menit shela mondar mandir dikamarnya bak kereta api. Akhirnya Shela memutuskan untuk ke kamar mamanya.
***
Diketuknya kamar mamanya. “Siapa?” jawaban dari sebrang pintu itu.
“Shela ma” jawab Shela. Tanpa berpikir apapun, Bu Retno segera membukakan pintu untuk Shela.
“Kamu kenapa sayang? Tumben-tumbennya kamu bangun jam. Segini? ” Tanya Bu Retno.
“Shela kebangun ma. Gara- gara mimpiin ayah” jawab Shela. Shela berterus terang tentang mimpi dan alasan kenapa ia tidak makan malam dengan mamanya tadi. Namun tidak ada respon apapun dari Bu Retno. Bu Retno bingung apa yang harus ia jawab ataupun yang Ia lakukan.
“Sayang. Kamu tidur lagi sana. Besok harus sekolah lagi kan? Kamu boleh tidur dengan mama malam ini”. Bu Retno mengalihkan pembicaraan. Namun Shela tidak berkomentar. Shela pun meletakkan tubuhnya ke kasur mamanya yang beralaskan seprai motif bunga-bunga itu.
***
Shela bercermin di kaca riasnya. Di polesnya lipglos di bibir mungilnya itu. Berkali-kali Shela berpose di depan cermin itu. Sesekali Shela menjadikan sisirnya sebagai mic dan bergaya seperti penyanyi yang kerap kali dilihatnya di salah satu program yang disukainya. “Ternyata aku cocok juga jadi penyanyi” pikirnya. Setelah beberapa menit memandangi diri di kaca. Akhirnya Shela memutuskan untuk berangkat sekolah . “Sipp sudah! Aku siap untuk ke sekolah” ucap Shela.
Jam hampir menunjukkan pukul 07.00 tepat.  Gerbang sekolah pun hampir ditutup. Di depan gerbang, terdapat seorang guru laki-laki yang mempunyai kumis tebal bersiaga untuk menangkap dan memberi ceramah kepada murid yang terlambat. Guru laki-laki itu adalah Pak Woyo, seorang guru BK. Guru yang paling di takuti setiap murid SMP Pelangi. Berurusan dengan Pak Woyo sama saja mencari mati. Dan menurut issu yang beredar. Pak Woyo belum mempunyai isteri meskipun umurnya bisa dibilang cukup tua. Yah jelas saja belum punya isteri, tampangnya yang sangar membuat setiap orang takut kepadanya, apalagi untuk menjadikannya suami.
Dengan sedikit berlari, Shela turun dari mobil mamanya menuju gerbang sekolahnya. Karena Shela tahu. jam hampir menunjukkan Jam.07.00 tepat. Shela takut terlambat dan berurusan dengan monster berkumis tebal itu, julukan Pak Woyo yang diberikan Shela. “Pagi pak” sapa Shela ketika melewati Pak Woyo. Pak Woyo tidak membalas sapaan Shela itu, karena Pak Woyo sedang sibuk dengan 2 orang kakak seniornya Shela. Ntah apa salah kakak seniornya itu.
“Dasar guru monster! Di sapa gak dijawab. Gak di sapa ntar dimarah, dasar aneh!!!” oceh Shela.
***
Shela tiba di kelasnya . Langsung ia letakkan tas bunga mataharinya itu ke tempat duduknya, dan di sapanya Arini, Sendy dan teman-teman lainnya yang sedang asyik bergossip ria di sekitar tempat duduknya. Entah apa yang mereka gossipkan. Yang pastinya Shela paling tidak suka mendengar yang namanya gossip. Hal yang belum diketahui kebenarannya, dan berisi hal-hal kejelekan seseorang.
***
Tretttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Bel tanda masuk berbunyi. Semua murid kelas Shela langsung menuju ke tempat duduknya masing-masing . Aktivitas yang para murid lakukan sebelumnya, langsung terhenti begitu saja. Belum terlihat proses belajar mengajar di kelas itu.  Jadi murid-murid masih bisa bersantai-santai terlebih dahulu. Namun baru saja tadi terdapat himbauan dari OSIS bahwa setiap murid baru harus mengikuti 1 eskul sesuai dengan peraturan sekolah.
Sekolah selalu saja membuat peraturan-peraturan yang membuat para murid semakin menderita. Yang membuat mereka tidak mempunyai waktu untuk merasakan indahnya masa kecil mereka. Yang malah membuat mereka dituntut untuk mengikuti segala ketentuan yang bisa membuat mereka ‘stres’. Beginilah generasi baru nanti. Bukannya menciptakan generasi yang bermutu, malah menciptakan generasi stress.
“Ribet banget sih? Harus ikut ini-itu? ” keluh Shela.
Shela bingung harus mengikuti eskul yang mana, Shela juga takut itu akan mengganggu bimbel dan les piano yang sudah seminggu lalu sudah di daftarkan mamanya Shela untuk dirinya. Jadwal Shela sudah penuh. Tidak ada hari bersantai untuknya . Hanya hari minggu dan itupun masih harus diisi dengan mengerjakan tugas-tugas yang esoknya akan di kumpulkan.
“Shela? Kamu ikut eskul apa?” Tanya Romi, teman sebangkunya.
Ini pertama kalinya Romi ngobrol dengan Shela. Walaupun mereka sudah 2 hari menjadi teman sebangku. Komunikasi diantara mereka masih belum akrab.
“Hm. Gak tau nih Rom. Shela bingung, shela takut nanti tabrakan dengan jadwal les piano dan bimbelnya Shela nanti” jawab Shela. Romi hanya mengangguk-ngangguk. Ntah apa arti dari anggukannya itu. Di lihatnya Romi sedang menulis sesuatu di buku ber-coverkan salah satu pemain bola Timnas Indonesia itu. “Kamu nulis apa Rom?” Tanya Shela penasaran.
“Hm, ini Shel. Aku lagi buat puisi, iseng-iseng saja. Daripada aku ribut gak jelas. Lebih baik aku buat sesuatu yang punya manfaat ” jawab Romi. Shela tidak menyangka, kalau cowok seperti Romi bisa membuat puisi. Karena menurut penarikan kesimpulannya Shela, cowok cool itu anti banget namanya nulis puisi. Yang adanya download puisi dari salah satu situs internet dan dibacakannya untuk seorang spesialnya. Ntah itu pacar, keluarganya maupun temannya. Itu di ambilnya kesimpulan dari pengamatannya sewaktu Shela menonton sebuah sinetron remaja karena biasanya seperti itu. Rasa kagum kepada Romi muncul dalam diri Shela.
“Kamu mau?” Tanya Shela sambil menyodorkan sekotak coklat yang dibawanya khusus dari rumah tadi. Tanpa perasaan malu-malu, Romi menerima penawaran Shela tersebut. “Kamu buat puisi apa? Kok kayaknya serius banget? Shela lihat dong, boleh ya?” Tanya Shela. “Hm, masih setengah Shel. Belum utuh jadinya. Pikiran Romi lagi buntu nih, gak ada dapat inspirasi. Bentar dulu ya?” jawab Romi. Romi pun langsung melanjutkan kembali puisinya, lalu di sodorkannya kepada Shela setelah selesai. “Ini Shel. Kalau puisinya gak bagus, jangan diketawain ya Shel. Malu” ucap Romi. Shela mengambil puisi itu, dalam hatinya ia semakin mengagumi Romi. HEBAT, 1 kata yang bisa Shela lukiskan untuk Romi yang bisa membuat sebuah puisi dalam waktu sesingkat itu  .Puisi itu berjudukan Sahabat. Dengan seksama Shela membacanya dalam hati.

Sahabat
Sahabatku adalah tetesan embun pagi
Yang jatuh membasahi kegersangan hati
Hingga mampu menyuburkan seluruh tanaman sanubari dalam kesejukkan
Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
Yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
Hingga mampu menerangi gulita semesta dalam kebersamaan
Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
Yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
Hingga mampu memberikan keteduhan dalam kedamaian

***
Begitulah kata-kata yang ada dalam puisi tersebut. Shela tidak menyangka ternyata Romi memang benar bisa membuat puisi. Kata-kata dalam puisi itu sangat puitis sekali, menyentuh hati. Shela pun menebak-nebak ntah berapa banyak lomba membuat puisi yang Romi pernah menangkan. “ Sudah berapa kali kamu memenangkan lomba membuat puisi?” Tanya Shela. Romi pun langsung memperlihatkan reaksi tertawanya. Ntah apa yang membuatnya tertawa. Tidak ada yang lucu dan Shela pun tidak sedang melawak . Shela menjadi bingung. “Kok kamu ketawa sih Rom? Apa yang lucu?” tanyanya.
“Hm. Gak apa-apa kok. Cuma pertanyaan mu itu aneh saja menurutku. Puisi ku itu jelek. Mana mungkin bisa menjuarai lomba-lomba membuat puisi. Kamu ngaco deh” jawab Romi sambil tertawa.
 “Aku benar-benar Romi. Puisi mu bagus banget. Puitis banget. Aku yakin kamu pasti sering menjuarai lomba membuat puisi. Aku yakin!” sambung Shela lagi.
“Hm, aku gak pernah nyoba Shel buat ikut lomba-lomba begituan. Gak ada yang dukung aku. Jadinya aku buat puisi hanya untuk mengisi waktu luang saja. Habis puisi itu jadi, langsung ku simpan di tong sampah. Kalau kamu mau ambil puisi itu, terserah. Kalau gak juga gak apa-apa. Tong sampah sudah menanti puisi ku” jawab Romi. Shela bingung dengan Romi. Aneh sekali Romi ini pikirnya. Punya bakat membuat puisi tidak dipakai dengan baik. Sedangkan Shela yang ingin sekali punya bakat menulis puisi saja tidak bisa terwujud. Shela tidak mau lagi membahas tentang puisi buatan Romi.
***
Di jam istirahat. Shela berusaha akrab dengan teman sekelas lainnya. Shela tidak mau, ia hanya dianggap angin lalu oleh teman-temannya. Shela pun bergabung dengan gerombolan teman kelas cewek yang sedang melanjutkan gossipnya tadi pagi di teras depan kelas. Gerombolan itu terdapat Arini, Sendy, Cici, dan Tiwi. Walaupun tidak suka bergossip, Shela memaksakan ikut untuk mencari perhatian teman-temannya. Beribu pembicaraan yang mereka bahas, dari model pakaian terbaru, sepatu keluaran terbaru, senior yang menjadi target mereka, sampai guru pun masuk ke dalam bahan gossipan mereka. Shela hanya diam diantara gerombolan 4 cewek itu. Bisa dikatakan Shela hanya seperti kambing congek. Tidak ada respon apapun darinya. Teman-teman lainnya jadi merasa sedikit aneh dengan Shela.
“Shel! Jangan bengong aja kamu. Daritadi Cuma diam aja!” kejut Arini.
“Hm, gimana aku bisa nyambung dengan pembicaran kalian. Secara aku Cuma kenal sama kamu dan cici, dengan yang lain nggak. Aku Cuma tahu nama mereka. Itupun aku tahu, dari setiap ada teman yang menyapa kalian” jawab Shela, yang memang tidak ingin bergossip. Shela mengalihkan pembicaraan. Yaa.. kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Bagaimana Shela bisa ikutan nyambung, kalau belum kenal sama satu sama lainnya. “ Tak kenal maka tak sayang”.
Arini pun langsung memperkenalkan mantan teman sebangkunya itu kepada Sendy dan Tiwi. Perkenalan pertama dimuliai dari Sendy. Sendy adalah peranakan jawa yang berkulit sawo matang dan mempunyai wajah yang cukup manis. Menurut penjelasan Arini, Sendy merupakan salah satu anggota band terkenal di daerahnya. Salah dugaan Shela tentang images anak band. Yang ada dipikirannya dulu bahwa anak band itu sadis, bebas dan segala macam. Yang pastinya jelek. Namun pernyataan itu hilang setelah Shela berkenalan dengan Sendy. Sendy terlihat sangat ramah, tidak seperti dugaannya itu. Dan perkenalan selanjutnya dengan Tiwi. Yang mempunyai nama lengkap Desi Pratiwi Arvi. Tiwi memiliki postur tubuh yang bisa dikatakan gemuk. Tiwi juga memakai kaca mata -100 dengan ganggang bermotif polkadot. Tiwi mempunyai bakat dalam music, khususnya memainkan tuts piano. Jemarinya yang lentik berlari-lari di atas pianonya dan menimbulkan bunyi yang merdu.
***
Sejak perkenalan mereka saat itu. Terciptalah hubungan yang sangat akrab diantara mereka. Dan mereka pun memutuskan untuk membuat sebuah kelompok bermain dan belajar yang bernama D’ANGEL. Ntah siapa yang mengusulkan nama itu. Yang pastinya nama itu sudah menjadi title kelompok mereka. Tiada hari tanpa kebersamaan. Itulah motto D’ANGEL.
Sejak saat pembentukan D’ANGEL itu, pendapat Shela tentang tidak butuh Sahabat pun memudar. Sekarang Shela sudah punya sahabat lagi. Kesendiriannya Shela selama ini berangsur mengurang.
***
“Gimana kalau kita buat perjanjian D’Angel?” usul Arini yang membuat keheningan diantara mereka ber-5 memudar. “Untuk apa sih kita buat perjanjian segala? Ribet banget tahu. Mau buat perjanjian kayak Perjanjian Linggarjati itu yah?” ucap Sendy yang memang paling cerewet diantara mereka ber-5.
“Hm, bukannya gitu Sen. Perjanjian ini dibuat biar hubungan persahabatan kita berjalan dengan baik. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi diantara kita. Gimana?” Tanya Arini. Dengan serentak Sendy, Shela, Cici dan Tiwi menyetujui usulnya Arini. Kalau itu demi kebaikan hubungan merekan, apa salahnya? Pikir mereka semua. Mereka pun dengan segera membuat perjanjian itu. Yang pertama mereka lakukanlah adalah mendaftar apa-apa yang pas banget buat di jadikan isi perjanjian D’ANGEL itu. Setelah itu mereka memusyawarahkannya dan mengambil suara terbanyak , Hampir seperti persidangan MPR mengamandemen pasal-pasal UUD J .
Sekitar 2 jam mereka menyelesaikannya. Dan sekarang telah disetujui bersama segala sesuatu yang sudah secara sah menurut mereka tercantum di dalam perjanjian itu. Tak lupa mereka menandatangi di bawah perjanjian itu.
PERJANJIAN D’ANGEL
1.       Tidak ada namanya teman makan teman
2.       Tidak ada rahasia-rahasian diantara setiap anggota D’Angel terkecuali masalah keluarga
3.       Apabila ada salah satu anggota tidak berkenan dengan sikap sesama anggota D’angel. Langsung menyatakan kekeluhannya di hadapan semua anggota.
4.       Tidak ada namanya menjelek-jelekan sesama anggota di belakang
5.       Apabila D’Angel sedang mengadakan acara. Diharapkan setiap anggota hadir. Dan apabila ada sesuatu hal yang menyebabkan ketidakbisaan hadir, diharapkan memberi alasan yang sejelas-jelasnya.
6.       Selalu ada kata maaf untuk sesama anggota
Tertanda :


Arini
Shela
Sendy
Tiwi
Cici



***

Tidak terasa kelompok d’angel sudah terbentuk 1 bulan. Banyak sudah kisah yang mereka lewati bersama. Ntah itu jalan-jalan ke mol, pergi ke salon, hunting dress, dan segala macam kegiatan lainnya .  Hari ini mereka merencanakan untuk nginap di rumah salah satu anggota D’angel. Usul acara menginap ini disampaikan oleh Sendy yang paling jago namanya buat-buat acara. Yahh.. salah satunya seperti acara menginap inilah.
“ Eh semuanya? Ada usul gak kita akan menginap di rumah siapa ya? Dan siapa yang akan membuat jadwal acara menginap kita? Biar lebih seru gitu..” Tanya Sendy yang sedang berada di taman sekolah bersama tema-temannya.
“Hm. Bagaimana dirumah mu aja Sen? ” Tanya Arini.
“Hm, maaf ni teman-teman. Bukannya Sendy gak mau . Tapi Sendy takut ntar gak diijinkan oleh mama tiri Sendy. Kalian kan tahu bagaimana mama tiri Sendy. Dia paling gak suka kalau Sendy bawa teman ke rumah, apalagi sampai nginap.  ” jawab Sendy dengan wajah yang sedikit murung. Perasaan Arini menjadi tidak enak akan Sendy, Arini lupa bahwa ibu tiri Sendy itu galak bak mak lampir sehingga membuat Sendy tidak pernah merasa nyaman di rumah. Arini pun mengalihkan pembicaraan.
“Bantu mikir dong wi!! Kerja mu makan aja terus. Gimana badanmu gak makin besar gitu? Sampai-sampai baju seragam barumu itu saja. Sudah mau sobek.” Tanya Arini pada Tiwi yang daritadi sibuk dengan makanannya. Bukannya teguran pertama yang diberikan Arini kepada Tiwi, teguran ini merupakan teguran yang mungkin sudah beratus. Namun  Tiwi selalu beralasan sama yaitu makanan adalah sahabatnya yang paling setia. Nemaninnya tiap waktu, tiap mulut Tiwi ingin mengunyah.
“Maaf Arini sayang” Memang rencana kita sekarang apa?” ucap Tiwi yang tetap tidak berhenti mengunyah walaupun seudah ditegur .
“Ya Tuhanku Tiwi yang kusayang, yang cantik, dan yang paling LOLA(loading lama), dengar baik-baik ya? Kita sekarang buat acara nginap, kan kebetulan besok kita libur tu. Nah sekarang, kita tu belum nemuin mau nginap di rumah siapa? Jadi mohon berikan sarannya” .Jawab Arini dengan sedikit naik darah.
“Gimana kalau di rumahnya Shela saja? Diantara kita, rumahnya yang belum pernah kita kunjungilkan, rumahnya Shela dan Sendy. Kalau di rumahnya Sendy, pasti gak mungkin karena ada mama tirinya. Gimana?” Usul Tiwi. “Oh iya ya, kok kita bisa ngelupain Shela ya? Kalian tahu gak dimana Shela sekarang? Tumben-tumbennya Shela gak gabung sama kita? Ucap Sendy. Cici, Arini, dan Tiwi mengeeleng tanda tidak tahu akan keberadaan Shela sekarang. Karena itu mereka ber-4 berinisatif mencari dimana Shela.
***
Sementara itu diperpustakaan.
“Dimana sih buku tentang tatacara membuat puisi? Udah ¼ jam aku di perpustakaan ini gak dapat-dapat. Nampak banget kalau aku memang jarang ke perpustakaan” keluh Shela sambil memperhatikan judul-judul buku yang ada di rak perpustakaan. Setelah beberapa lama mencari buku yang diinginkannya dan tidak ada hasilnya, Shela pun memutuskan untuk kembali kelas sebelum jam. Istirahat usai.
“Aduh!!” reaksi Shela setelah seorang laki-laki menabraknya dan membuat tubuh Shela terjatuh ke lantai. Laki-laki yang menabrak Shela tadi dengan segera membantu Shela berdiri. “Maaf ya? Aku tadi lagi buru-buru” ucapnya. “Hm, gak apa – apa kok” jawab Shela berdusta. Padahal ntah berapa banyak sumpah serampah yang dilontarkan Shela kepada orang yang menabraknya itu.
“Kamu?” Ucap laki-laki itu. “Iya? Ada yang salah sama aku?” sambung Shela.
Tidak ada respon apapun yang diberikan laki-laki itu kepada Shela. Laki-laki langsung meninggalkan Shela begitu saja. Shela menjadi bingung. Setahunya , Shela tidak pernah kenal dengan laki-laki tadi. Shela pun meninggalkan perpustakaan, namun dipikirannya tetap terngiang tentang laki-laki itu. Karena sibuk memikirkan laki-laki itu Shela tidak sadar bahwa didepannya ada tong sampah besar, Shela menabrak tong sampah itu.
“Aduh”!! reaksi Shela yang menabrak tong sampah dengan tidak sadar.
Seluruh mata yang menyaksikan peristiwa Shela menabrak tong sampah tersebut langsung tertawa terpingkal-pingkal. Berbagai argument mereka yang Shela bisa dengar dengan jelas, misalnya  : Makanya mata tu gunanya buat ngeliat, gunain baik-baik, cantik-cantik kok oon, dan banyak lagi. Ingin rasanya Shela menjawab semua argument mereka itu, namun Shela berpikir tidak ada gunanya juga menjawab semua argument mereka. Malahan berujung BK pula nantinya. Yang pastinya tidak diinginkan Shela, apalagi urusannya sampai diberikan surat panggilan orang tua. Dengan sedikit berlari, Shela meninggalkan tempat yang mempermalukan dirinya itu.
***
“Kamu kemana aja Shel? Kok pergi gak bilang-bilang. Udah lupa dengan perjanjian d’angel kita? Kamu udah hampir melanggarnya Shel. Ingat pasal 5!” ucap Sendy sewaktu Shela baru saja mau menuju tempat duduknya. “Sudahlah Sen. Ingat juga pasal 6, selalu ada kata maaf untuk sesama anggota d’angel” sambung Cici.  “Hm, maaf teman-teman. Bukannya tadi aku gak mau kumpul sama kalian. Tadi aku ke perpustakaan. Benar kok” jawab Shela. Sendy pun memaklumkan Shela.
“Okelah. Lain kali bilang-bilang ya Shel?” sambung Sendy.shela pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Oh iya Shel, tadi kami ber-4 buat rencana nginap. Trus rencanaya tempatnya tu di rumah kamu Shel. Kamu setuju gak?” Tanya Arini.
“boleh-boleh saja kok. Pintu rumahku terbuka lebar buat kalian” ucap Shela sambil tersenyum.
Perbincangan tentang acara menginap mereka pun selesai dengan usainya jam.istirahat. Mereka pun dengan segera menuju tempat duduk masing-masing dan siap menerima pelajaran selanjutnya.
***
Pelajaran yang akan mereka terima saat ini adalah pelajaran IPS, dan kebetulan pengajarnya bernama Pak Udik. Seorang guru yang merupakan salah satu guru favorit murid-murid. Yah Selain lucu, Pak Udik juga jarang sekali menjelaskan pelajaran. Yang banyaknya bercerita, yang bisa dikatakan sudah keluar jalur tema pelajaran. Itulah hal yang membuat para murid menyukainya. Pak Udik juga tidak terpengaruh akan murid yang tidak mendengarkannya. Menurutnya sih, itu hak murid mau mendengarkannya atau tidak, yang rugi pun siapa jelasnya.  Suatu peristiwa yang mungkin tidak akan dilupakan tentang Pak Udik oleh setiap murid kelas 7A adalah pada saat ulangan harian pertama mereka. Pada saat itu Pak Udik menyediakan 10 soal berbentuk essay dan setelah memberi soal ulangan harian tersebut, Pak Udik meninggalkan mereka pergi ke kantor guru sampai jam.pelajarannya habis .      ” Jika ada guru saja masih ada yang mencontek, apalagi tidak ada”. Beginilah juga yang terjadi pada saat itu, semua murid kelas 7a mencontek semua, hingga murid yang anti mencontek pun menjadi ikut-ikutan. Tidak lama bagi setiap murid itu menjawab semua soal karena tinggal salin saja.
***
Ntah apa yang sedang diceritakan Pak Udik di depan kelas sekarang. Tidak seperti biasanya Shela yang paling merasa tertarik dengan cerita-cerita Pak Udik. Sekarang menjadi tidak ingin tahu. dipikirannya masih saja wajah laki-laki yang menabraknya di perpustakaan itu. Ntah mengapa Shela merasa pernah mengenalnya dan secara dekat. Shela seperti orang kesambet saat ini. Diam tanpa gerak sedikit pun. Seperti patung selamat datang yang ada di dekat rumah Shela itu.
“Shel. Shel.” Panggil Romi yang tadi bingung dengan sikap Shela. Ntah sudah berapa kali Romi memanggilnya. Tidak ada respon sama sekali dari Shela.
Tret.tret.tret.
HP nya Shela bergetar di dalam saku seragamnya. Getaran HPnya itu membuat lamunannya buyar. Segera diambilnya HP. Di lihatnya sebuah pesan singkat dari mamanya. Dengan segera Shela membaca pesan singkat itu
From     : Mama
Kamu masih ingat tante lidia sayang? Ternyata keluarga mereka juga tinggal di daerah yang sama dengan kita sekarang.
***
“Tante Lidia? Siapa itu?” Tanya Shela pada dirinya. Sekarang tidak hanya laki-laki itu yang membuatnya bingung. Pesan mamanya pun ikut nimbrung membingungkannya.
 Bel tanda berakhirnya pelajaran IPS dan sekaligus tanda jam. Pulang pun berbunyi.  Tanpa diberi intruksi apapun semua murid kelas 7A segera memasukkan perlengkapan belajar mereka, dari buku pelajaran hingga alat tulisnya ke tas. Meskipun Pak Udik masih saja beroceh di depan kelas. Mereka ingin cerita Pak Udik selesai, dengan begitu mereka bisa cepat pulang.
“Sepertinya bel sudah menyuruh bapak untuk menghentikan cerita bapak ini. Ini sangat disayangkan yah anak-anak? Minggu depan kita lanjut lagi pelajaran kita. Selamat siang!” Ucap Pak Udik dan segera meninggalkan kelas 7A itu. Wajah kegembiraan murid kelas 7A pun terlihat, inilah saat-saat yang paling ditunggu mereka. PULANG.
***
“Hm kita mulai ke rumah Shela jam. 5 sore gitu yah teman-teman?’’ Ucap Sendy kepada Cici, Shela, Arini dan Tiwi di depan gerbang sekolah. Mereka ber-4 langsung menyetujui nya. Mereka juga berpesan 1 sama lain untuk membawa sesuatu yang tidak akan membuat mereka bosan di acara menginap itu. Dan Sendy, cici, tiwi dan arini pun berpesan kepada Shela yang rumahnya akan dijadikan mereka target menginap, segera menyiapkan keperluan mereka, seperti makanan-makanan. setelah itu, mereka bergegas ke jemputannya masing-masing.
***                                                                       
Belum saja berganti pakaian, Shela yang baru datang langsung menghampiri Bu Retno, mamanya yang sedang duduk di teras rumahnya.“Ma, besokkan libur tuh. Trus tadi Shela dengan teman-teman udah sepakat buat ngadain acara nginap. Acaranya itu di rumah kita ma. Boleh ya ma?” tutur Shela.  “Hm.Baguslah . Jadinya kamu kesepian sayang. Gak kayak orang kesambet diam ke kamar terus” ucap Bu Retno bercanda. “Ih mama. Makasih ya ma udah bolehin?” sambung Shela lagi sambil memeluk mamanya. Inilah enaknya punya mama seperti Bu Retno. Yang selalu mengerti apa mau anaknya, yang selalu ada buat anaknya. “Ma. Shela beruntung banget yah punya mama kayak gini, Shela kasian ma sama sahabatnya Shela. Dia punya ibu tiri. Trus jahat lagi sama dia. Memangnya ibu tiri itu selalu jahat seperti yang ada di tv-tv itu yah ma?” Tanya Shela dipelukan Bu Retno. Bu Retno mengelus rambut putrinya itu. “Jadi kamu harus tetap bersyukur yah sayang? Nasib kamu masih lebuih baik dari orang lain, walaupun tanpa ayah sayang. Tapi ingat sayang, Tuhan itu maha adil, temannya kamu nanti, pasti akan merasakan kebahagiaan nantinya. Semua itu indah pada waktunya sayang. Tuhan gak tidur” ucap Bu Retno.
***
Bunyi bel rumahnya Shela berbunyi. Dengan segera Bi Ulan membukakan pintu. Di lihatnya ada 3 cewek remaja sepantaran Shela berdiri di teras rumah. “Shela mana bi?” Tanya Cici yang mewakili Sendy dan Arini.  Belum sempat Bi Ulan menjawab pertanyaan mereka, orang yang mereka tanyakan itupun keluar dengan memakai dress mini pink berbando pink. “Udah datang yah kalian? Eh kok kayaknya ada yang kurang nih?” Tanya Shela. “Tiwi nyusul ntar Shel. Lagi nyiapin keperluan katanya tadi” jawab Cici. Shela pun mengajak para sahabatnya itu untuk masuk ke rumahnya. Inilah pertama kalinya, Cici, Sendy dan Arini memasuki rumahnya Shela. Mereka terkagum-kagum melihat rumah salah satu sahabatnya ini. Rumah Shela sangat besar. Rumah Shela itu berwarna minimalis. Sangat cantik seperti penghuninya pula. Saking terkagum-kagumnya , tidak hentinya mereka pandangi setiap sudut ruangan rumah Shela. Mereka tidak mengira rumah Shela sebagus ini.
Bi Ulan membawakan soft drink untuk mereka. Tanpa diberi perintah, Arini segera mengambil salah satu soft drink itu dan langsung meminumnya. “Hehehehe. Maaf ya? Udah haus berat ni”ucapnya. Cici ,Sendy dan Shela hanya tertawa melihat tingkah Arini. Tidak lama kemudian, Tiwi datang dengan diantar sopir pribadinya. “Hei!!! Jangan pada bengong dong. Bantuin! Berat ni!” Ucap Tiwi sambil mengangkat keranjang penuh makanan. Mereka pun segera menolong Tiwi. Namun Shela, Arini, Sendy dan Cici  masih bingung. Bawaannya Tiwi sangatlah banyak. Bukannya seperti mau menginap, Tiwi sepertinya mau pindah rumah ke rumahnya Shela.”Dasar kamu wi!!! Paling heboh sendiri kamu!” ucap Arini. Tiwi hanya tersenyum mendengarnya. “Heh! Kalian ini. ”contohlah aku ini. Aku kan selalu sedia. Sedia payung sebelum hujan. Begitulah kira-kira pepatahnya” ucap Tiwi. “Mau nyaingin doraemon nih ceritanya? Yang punya kantong ajaib. Yang selalu siap sedia? ” Tanya Arini. Bukannya diresponnya pertanyaan Arini tersebut oleh Tiwi, Tiwi hanya tersenyum-senyum gak jelas. Tanap pikir panjang, Shela segera membawa para sahabatnya itu ke kamarnya. Ke tempat diselenggarakannya acara menginap mereka.
***
Setelah memasukkan semua bawaan untuk acara menginap itu. Shela segera mengajak para temannya itu untuk bersantai di taman belakang rumahnya.
”Ma, ini sahabat-sahabat Shela” ucap Shela kepada Bu Retno yang kebetulan sedang bersantai di taman itu. Bu Retno tersenyum dengan sahabat-sahabat anaknya itu. Tidak lupa Bu Retno berkenalan dengan mereka masing-masing. Bu Retno juga bertanya tentang latar belakang keluarga mereka sedetail mungkin. Setelah mengobrol cukup lama, Bu Retno pun pamit meninggalkan mereka karena ada mendadak ada rapat di kantor Bu Retno. Sebenarnya Bu Retno masih ingin mengobrol banyak dengan mereka.
***
“Mama kamu baik banget yah Shel? Kamu beruntung punya mama kayak gitu. Andaikan yah Shela aku punya kayak gitu. Gak kayak ibu tiri aku yang sekarang ” Ucap Sendy. Cici, Arini, Shela dan Tiwi tahu perasaan apa yang ada pada Shela. Mereka tahu kondisi keluarganya Sendy seperti apa. Mereka berusaha agar temannya itu tidak bersedih. “Sendy jangan sedih yah? Hidup itu pasti selalu ada rintangannya. Dan suatu saat kamu pasti bisa nemuin hal yang bisa buat kamu senang Sendy. Tuhan itu gak tidur. Dia selalu ada buat kamu. Semua itu akan indah pada waktunya Sen” hibur Shela yang mengikuti kata mamanya tadi siang. Arini pun ikut menimbrung, “Benar banget tu Sen. Kamu kan masih ada kami, yang selalu ada buat kamu. Yang sayang sama kamu. Hidup itu seperti roda Sendy, akan berputar semuanya itu”. Cici pun tidak mau kalah memberi nasehat. “Kamu ingat gak Sen? Waktu salah satu diantara kita lagi sedih. Siapa yang paling berinisiatif buat nyenanginnya. Kamu kan? Masa kamu bisa buat orang senang, sedangkan untuk kamu senidiri gak sih Sen” . sampai-sampai Tiwi pun yang biasanya hanya makan saja kerjaannya,sekarang memberikan sebuah motivasi juga. “Kamu pernah makan permen karet kan Sendy? Permen karet itu kalau dikunyah ada manisnya, dan ada hambarnya juga. Nah begitu hidu Sen. Hidup kadang terasa manis dan kadang juga terasa pahit. Setiap orang pasti ngerasain semua itu kok Sen” tutur Tiwi. Sendy, Shela, Arini dan Cici tersenyum medengar nasehat Tiwi, yang sangat Hobbi makan. Sampai-sampai di nasehatnya pun tercantum makanan. Tiwi memang gokil J
***
“Rumahmu sepi banget yah Shel?” Tanya Arini saat makan malam.  “Yah memang beginilah kondisi rumahku Rin, secara yang tinggal di Rumahku hanya aku, mama dan Bi Ulan’’ jawab Shela. “Papamu?” Tanya Arini lagi. Shela tidak menjawab pertanyaan dari Arini tersebut. Shela segera menyudahi makan malamnya dan bergegas ke WC.”Shela kenapa tu Rin” Tanya Sendy. Arini hanya menggeleng dan meneruskan makan malamny. Bi Ulan yang sejak tadi berdiri di dekat meja makan, langsung angkat bicara. “Papa Non Shela setahun lalu meninggal kecelakaan pesawat. Non Shela menjadi sedikit pendia, cuek dan tertutup sejak kejadian itu. Mungkin Non Shela masih belum bisa kehilangan ayahnya. Non Shela kan dulu lebih dekat sama ayahnya daripada sama Nyonya Retno” ucap Bi Ulan. Keheningan pun terjadi di meja makan itu. Rasa bersalah meliputi Arini, Arini benar-benar gak punya maksud menyinggung perasaan Shela, sahabatnya itu.
***
Sedangkan di dalam WC, air mata Shela semakin deras membasahi wajah mungilnya. Shela tidak menyalahkan Arini yang telah mengingatkannya terhadap ayahnya. Hanya saja, setiap kali seseorang menanyakan info tentang ayahnya. Shela merasa hidupnya sangatlah kurang saat ini.
Tok.tok.tok.tok.
Ketukan dari luar WC terdengar, membuat Shela dengan segera mencuci wajahnya agar tidak ketahuan telah menangis.
“Iya, iya bentar” ucap Shela dari dalam WC.
***
Di lihatnya Arini sedang berdiri di depan pintu WC. “Kamu kenapa Rin?” Tanya Shela. “Hm, gak apa-apa kok. Cuma kamu ke WCnya tadi lama, jadinya yang lain pada khwatir Shel” ucap Arini berbohong. Arini tidak mau lagi mengungkit pembicaraannya saat makan malam tadi.
***
Pesta di mulai.
Dengan dinyalakan DVD dengan bervolume kuat dan lampu warna-warni kamarnya Shela. Mereka Serasa berada di diskotik. Mereka berjoget-joget tidak jelas dan sambil memakan cemilan yng sudah di bawa Tiwi susah payah. Bak berada di suatu tempat yang tidak ada orangnya mereka, mereka bebas melakukan apa saja. Bunyi DVD yang bervolume  kuat itu sangat mengganggu Bi Ulan yang ingin tidur. Namun Bi Ulan tidak ingin merusak pesta Non Shela. Karena Bi Ulan tahu, ini adalah pertama kalinya Nonnya itu bersenang-senang seperti itu. Yah sejak kepergian ayahnya yang pasti. Setelah lelah berjoget-joget tidak jelas , mereka melajutkan untuk menonton film bersama. Kaset filmnya itu dibawa oleh Cici, yang kebetulan paling hobby menonton film-film. Apalagi film Korean, misalnya Boys Before Flower. Ada 5 judul film yang di bawa oleh Cici. Setelah sepakat untuk memutar salah satu judul yang Cici bawa, mereka segera mengambil posisi masing-masing. Mereka memudar film yang berjudul“sahabat bagaikan kepompong” . lagu pembukaan yang menjadi soundtrack film itu pun mengalun. Mereka ber-5 mengikuti setiap lirik yang ada pada lagu “Bagaikan kepompong”  tersebut.
“Persahabatan bagaikan kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kempompong. Hal yang tak mudah beubah menjadi indah. Persahabatan bagai kempompong. Nanannanana…”
Begitulah reff.lagu tersebut.
***
Tidak ada  suara sedikit pun. Mereka menonton film itu dengan penuh penghayatan. Film tersebut pun telah usai di putar. Sekarang jam. Telah menunjukkan pukul. 00.00. bisa dikatakan sekarang merupakan waktu yang seharusnya mereka harus pada tidur. Namun karena kondisi mata belum mengangantuk, mereka pun melanjutkannya dengan pesta bantal. Mereka saling melempar-lempar bantal kepada sahabat-sahabatnya, tawa, canda menyelingi pesta bantal itu. Kadang mereka ada juga yang beraduh karena sakit terkena lemparan salah satu sahabatnya. Belum puas dengan pesta bantal yang mereka lakukan tadi. Mereka pun melanjutkannya dengan BERGOSSIP RIA. Yang sepertinya bisa dikatakan sebagai hobi setiap insan wanita. Bagaikan telah melekat pada setiap wanita. Shela yang dulunya paling anti bergossip saja, sekarang menjadi suka. Walaupun tetap saja, Shela menjadi orang yang paling diam diantara mereka saat acara gossip sedang diselenggarakan. Bahan gossipan para d’angel malam ini adalah tentang kakak senior mereka. Yah.. namanya juga cewek. Pastinya mereka membincangkan tentang kakak senior cowok plus ganteng. Cici yang paling doyan benar soal cowok angkat bicara duluan. Cici bercerita bahwa ia mempunyai target kakak senior yang menjadi idolanya itu. Katanya sih kakak senior idola Cici itu merupakan anak basket.  Ntah apalagi yang mereka gossipkan. Yang pastinya sekarang mereka semua sudah terlelap di dalam mimpinya masing-masing.

***
“ Malam yang sangat indah”  argument para D’ Angel tentang malam yang mereka lalui barusan.
Sekarang jam telah menunjukkan pukul 04.30 tepat. Mereka semua bangun dari mimpinya masing-masing. Sesuai rencana mereka semalam, subuh ini mereka akan jogging di taman kota.
Sebenarnya sih bukan jogging berolahraga saja yang mereka inginkan. Mereka juga sekaligus cuci mata. Subuh ini ramai sekali orang yang berniat untuk jogging di taman kota. Baik itu anak-anak hingga manula. “Ramai banget sih Shel?” Tanya Tiwi.  “Yah. Memang seperti ini kalau hari libur Tiwi. Memangnya kamu gak pernah jogging disini?” ucap Shela. “Nggak Shel. Tiwi tu paling susah namanya bangun Shel. Trus kalau boleh jujur, ini pertama kalinya aku jogging’’ jawab Tiwi. “Pantasan badan mu seperti itu. Gak pernah olahraga toh” sambung Arini. Tidak menunggu apapun lagi, mereka ner-5 dengan segera jogging mengelilingi taman kota tersebut. Ntah mimpi apa mereka semalam. Saat ini mereka bertemu dengan ROMI, teman sekelas mereka sekaligus teman sebangku Shela.
“Hi. Kebetulan banget yah kita bertemu disini?” ucap Romi.
“Hi juga Shela. Hm, iya ni. Semalam kami habis buat acara nginap di rumahnya Shela. Gak jauh darisini kok Rom” jawab Shela yang mewakilkan teman-temannya.
“Oh.. gitu ya? Hm, boleh gabung gak? Romi sendiri nih. Tadi janji ma teman. Eh temannya gak bisa pula” sambung Romi lagi. Mereka ber-5 pun dengan serentak mengangguk. Tentu mereka setuju mengajak Romi jogging bersama. Romi adalah anak kelas 7 yang paling ganteng. Di kejar banyak kakak kelas pula. “Hm, kayaknya ada yang PDKT nih?” ucap Sendy. “Iya nih. Kita pergi yuk? Ganggu ntar” sambung Arini juga.
Romi dan Shela yang sedang diomongkan pun hanya senyum malu-malu. “kalian cocok tahu gak? Romi cakep begitu pula dengan Shela. Jodoh tu!” ucap Tiwi sambil membuka bungkus lolipopnya. Romi dan Shela pun menjadi salah tingkah. Ada rona merah di wajahnya Romi yang ia sembunyikan. Setelah capek berjogging mengelilingi taman kota, para D’Angel pun berinisiatif untuk pulang ke Rumah Shela. Mereka pun tidak lupa mengajak Romi untuk ikut. Romi pun menerima ajakan mereka. Kebetulan juga Rumah Romi tidak jauh dari kompleks rumah Shela.
***
Semua temannya Shela telah kembali ke rumahnya masing-masing. Rumah Shela kembali menjadi sepi seperti biasa. Seperti tidak adanya kehidupan di dalam rumah Shela. Sepi.
Shela bosan berada di kamarnya terus. Shela pun berinisiatif mencari angin sejenak. Shela menuju taman belakang rumahnya, Shela duduk di jembatan tamannya itu. Shela melihat ikan hias yang ada di dalam kolamnya itu. Cantik sekali. Warna pun beragam seperti warna pelangi. Bosan memperhatikan ikan hias itu, Shela pun beralih ke hewan ciptaan Tuhan berukuran kecil itu, yang sedang berjalan di pohon dekat Shela duduk sekarang. Hewan itu adalah semut. Shela tertarik untuk memperhatikan gerombolan semut itu. Shela kagum terhadap hewan berukuran kecil itu, terutama terhadap kerjasama sesama mereka dalam mengambil makanan. mereka bergotong-royong. Dan apabila mereka sedang berpapasan, mereka akan saling menegur satu sama lainnya. Beda dengan manusia, yang kebanyakan pada tidak peduli dengan kondisi orang lain. Tidak menyangka Shela, hewan sekecil itu bisa mengalahkan manusia dalam hal kerjasama. Dan semut itu, memberikan sebuah pengalaman yang unik.
***
“Sayang, Tante Lidia datang tu” panggil Bu Retno. Dengan segera Shela masuk ke rumahnya. Shela penasaran “siapa Tante Lidia itu? Yang kerap kali akhir-akhir ini dibicarakan mamanya”.
Shela melihat seorang wanita yang mungkin berumur sama dengan mamanya duduk di ruang keluarga. Tanpa diberi perintah oleh Bu Retno, Shela segera menyalami Tante Lidia. Walaupun Shela tidak tahu siapa orang yang Shela salami itu. “Kamu udah besar yah sayang? Makin cantik, persis mamanya” ucap Tante Lidia. Shela hanya tersenyum mendengar ucapan Tante Lidia. “Anak siapa dong jeng..” sambung Bu Retno. Shela pun duduk dengan Bu Retno dan Tante Lidia, mereka pun berbincang-bincang. Walaupun Shela hanya kebanyakan diamnya saja. Shela tidak mengerti apa yang sedang mamanya dan Tante Lidia bicarakan. Sepertinya mamanya memang mengenal Tante Lidia sudah sangat lama. “Oh iya sayang. Mama lupa jelasin ke kamu. Kami pasti lupa dengan Tante Lidia kan? Dia ini mamanya Dika sahabat lama dulu. Ingat?” ucap Bu Retno. Ntah mimpi apa malam tadi, Shela tidak menyangka kalau Tante Lidia yang mamanya  ceritakan adalah mamanya Dika. Sahabatnya yang meninggalkannya tanpa sebab, tanpa info apapun. Yang membuat Shela pernah merasa sahabat itu tidak ada. Namun kenangan itu sudah sekit demi sedikit ia lupakan, walau tetap saja ada goresan di hati.
“Dika apa kabar tante? Dia sekarang kelas berapa tante?” Tanya Shela penasaran. “Baik-baik aja Dika sayang. Dika sekarang udah kelas 3 SMA sayang” jawab Tante Lidia ramah. Pikiran jahat Shela pun datang, “untuk apa dia nanyain orang yang ninggalinnya begitu saja? Yang pastinya udah gak ingat dan care sama dia lagi”. Shela pun menghentian pertanyaannya sampai situ saja. Shela segera pamit ke kamarnya karena tidak ingin tahu tentang sahabat lamanya itu lagi.
***
Tret. Tret. Tret. Tret.
Mata Shela yang hampir memejam  segera membuka kembali karena getaran HP Shela. Shela melihat layar HPnya. Terdapat pesan dari nomor baru, tidak dikenal.
From     : 0809xxxxx
Hallo Shela? Masih ingat  gak sama aku? Penggemar rahasiamu. Kamu adalah rembulan yang menyinari hatiku. Kau adalah air, sumber kekuatanku. Dan kau adalah pelangi, pewarna hatiku.
***
Shela langsung menebak-nebak siapa pengirim pesan singka itu. Namun pikirannya tetap saja menuduh secara dominan pada 1 nama ROMI. Setahu Shela, Romi adalah satu-satunya teman sekelasnya yang bisa membuat puisi. Kalau dilihat dari kata-kata puisi itu puitis banget. Jadi untuk menjadikan tersangka pengirim pesan singkat itu adalah ROMI sangat kuat. Shela pun membalas pesan singkat itu.
From     : Shela
Hi juga J kamu siapa ya? Shela gak kenal. Kamu salah kirim kali. Puisinya bagus. Buat sendiri ya?
Itulah isi pesan singkat Shela.
***
Sementara di lain tempat, pengirim pesan singkat untuk Shela itu hanya tertawa kecil membaca balasan dari Shela. “Kamu polos banget Shel. Ini yang aku suka dari kamu” pikirnya. Seseorang itupun membalas pesan singkatnya Shela.
From     : 0809xxxxx
Kan udah pernah aku bilang. Suatu saat kamu akan tahu aku siapa, kau bintang dihatiku, terangi setiap langkahlku.
***
Shela membaca balasan dari orang yang mengaku penggemar rahasianya itu. “Lebay banget sih ni orang” pikirnya. Shela pun malas untuk membalas nomor baru itu, dibiarkannya pesan singkat itu tersimpan di HPnya dan Shela pun terbawa mimpinya.
***
“Selamat pagi Shela, matahari udah senyum tu. Bangun lagi. Walaupun libur jangan malas-malas ya? By : penggemar rahasiamu  ” isi pesan singkat yang masuk dibagi buta begini.
Shela melirik ke jam dindingnya, dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 06.00. “Wah! Kemajuan buat aku bangun pagi dihari libur begini” gumam Shela. Karena matanya masih mengantuk, Shela melanjutkan tidurnya.
***
“Bi, nanti kalau Shela bangun . Jangan lupa berikan surat ini untuknya” pesan Bu Retno sambil menyodorkan surat dengan memakai amplop merah bermotif bunga itu. Bi Ulan mengangguk. Bi ulan juga mengatarkan Bu Retno sampai ke  mobilnya.
***
Merasa sudah cukup tidur, Shela pun bangun. Jam nya telah menunjukkan jam.11 tepat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS