Cerpen : Rumah Angker


            “Ssstttt, diam dong teman-teman. Kalian nggak tahu ya? Coba kalian lihat rumah itu. Katanya sih rumah itu angker. Apalagi pohon yang ada di pekarangan rumah itu. Kalau kita berisik, kita bisa dimakan hantu penghuni rumah angker itu ” ucap seorang anak bernama Dodi kepada 3 temannya. Belum selesai Dodi mengakhiri ceritanya, teman-temannya sudah pergi meninggalkannya, ketakutan. Mata Dodi berjalan-jalan melihat kesegala arah sekitarnya. Tanpa pikir panjang lagi, Dodi pun segera menyusul pergi teman-temannya itu.
            Keesokkan harinya, Dodi dan teman-temannya mengadakan taruhan tanding bermain sepak bola dengan anak komplek sebelah. Dan kebetulan pula, pertandingan  sepak bola itu diadakan di sebuah lapangan luas tepat samping rumah angker itu. Pertandingan itu pun dimulai. Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi, bola mereka masuk ke pekarangan rumah angker itu. “Mampus dah!” ucap salah satu teman Dodi, Deni. “Gimana dong ini?” sambung Dodi. Mereka pun mencoba mencari jalan keluarnya. Namun tidak ada hasilnya. “Mengambil bola di halaman rumah angker itu sama saja cari mati” ucap Dodi. Teman-teman lainnya setuju atas ucapan Dodi barusan. Mereka pun putus asa, mereka memutuskan membatalkan pertandingan taruhan itu dan pulang ke rumah masing-masing.
Dodi masih saja memikirkan tentang rumah angker itu, Dodi penasaran apakah betul yang didengarnya selama ini tentang rumah itu. Dodi memutuskan untuk menyelidiki rumah itu. “Teman-teman, kita selidiki rumah angker itu yuk? Dodi ingin tahu yang sebenarnya.” bunyi pesan singkat yang dikirim Dodi melalui Handphone. Jawaban teman-teman Dodi sama. Tidak ada yang mau ikut menyelidiki. Dodi pun membatalkan niat untuk menyelidiki rumah itu. Dodi takut sendiri. Dodi takut ada hal yang tak terduga akan terjadi padanya. Atau mungkin membuat dirinya celaka. Ketakutan makin menghantui Dodi. Membuat Dodi tidak bisa tidur malam ini.
            Matahari belum menampakkan sinarnya, namun Dodi sudah bangun untuk berolahraga. Dengan tidak sadar kaki Dodi terus melangkah menuju rumah angker itu.Sekarang Dodi tepat berada di depan rumah itu. “Plak” bunyi jendela rumah itu yang terhempas. Seketika bulu kuduk Dodi berdiri.  Namun Dodi tidak langsung bergegas pergi. Dilihatnya pula ada bayang seorang wanita di jendela itu. Sekarang, ketakutan yang dirasakan Dodi sungguh dahsyat. Dodi lari terbirit-birit. Dodi tidak menghiraukan apa yang ada didepannya. “Gedebuk!!” bunyi hempasan tubuh Dodi yang terjatuh karena kulit pisang. Ntah berapa sumpah serapah yang dikeluarkan Dodi dengan kulit pisang itu. Padahal yang salah sebenarnya dirinya sendiri. Tidak berhati-hati. Ya.. Namanya juga ketakutan. Tidak memikirkan apapun yang ada. “Kamu kenapa Dod? Tampang mu jelek banget” ucap Deni yang kebetulan lewat. “Ini ni kulit pisang jelek! Orang yang makannya nggak bertanggung jawab! Dodi jadi korbannya!” ucap Dodi naik darah. Deni hanya tertawa mendengar ucapan Dodi. “Habis kamu nggak hati-hati sih! Emang  kamu habis ngapain Dod? ”Tanya Deni. “Habis dikejar setan!!” jawab Dodi. Deni pun terdiam, seketika wajahnya memucat. Ya.. Dedi. Temannya Dodi yang paling penakut hal beginian. Untuk buang air kecil saja, harus ditemanin mamanya ke WC. Jadi pantas saja reaksinya begini. Tanpa berbasa-basi lagi, Dodi menceritakan apa yang telah ia alami. Tidak ada reaksi sedikit pun dari Deni. Dodi pun segera meninggalkan Deni dan langsung menuju ke rumahnya.
            Sesampainya di rumah, Dodi menceritakan ulang yang barusan ia alami kepada mamanya. Mamanya hanya tertawa mendengar cerita itu. “Waduh anak mama, percaya hal begituan ya? Rumah itu nggak ada Hantunya sayang . Itu hanya rasa ketakutan kamu yang berlebihan ” ucap Mamanya. “Tapi ma, Dodi dengar dari orang-orang komplek kita gitu” sambung Dodi. “Ya.. Mereka itu hanya melihat dari bangunan rumahnya sayang. Rumah itu kan rumah tua. Makanya mereka berpikir gitu” ucap mamanya lagi. Dodi diam seribu bahasa. Dodi pun memutuskan untuk meyelidiki rumah itu. Dodi tidak peduli sendiri. Yang penting tahu kebenarannya saja, itu tujuan utamanya.Dodi menceritakan niatnya itu kepada teman-temannya. Teman – teman Dodi hanya menyemangati saja. Mereka semua takut melakukan hal beresiko seperti ini. “Tenang kok. Kami pasti bantu doa” itu saja ucapan dari teman-temannya.
            Dodi mulai menjalankan misinya. Dodi berusaha melawan rasa takutnya itu, bulu kuduknya berdiri, keringat dinginnya berkeluaran. “Ya Tuhan. Jaga Dodi. Dodi nggak mau mati secepat ini”   pikir Dodi dalam hati. Sekarang Dodi sudah berada di dalam pekarangan rumah angker itu. Perlahan-lahan ia menelusuri sekeliling rumah itu. Di lihatnya banyak tulang berserakan di halaman belakang rumah itu. Jantungnya semakin kuat berdetak. “Bagaimana kalau Dodi mati sekarang? Bagaimana kalau Dodi dimakan hantu dan tulangnya dibuang di halaman belakang rumah ini? Dodi masih ingin hidup. Dodi masih sayang keluarga, teman-teman. Dodi nggak mau mati dengan cara tragis begini” pikir Dodi dalam hati. Pikirannya hanya tertuju dalam 1 kata”MATI”. Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah itu terbuka. Dodi segera meninggalkan rumah itu bak dikejar setan. Keberaniannya memudar. Sejak saat itu, Dodi berjanji tidak ingin tahu lagi tentang rumah itu.
            “Dod. Kamu kenapa sayang? Badan mu panas kuat. Kamu sakit” Tanya Mama Dodi. Dodi hanya terdiam seribu bahasa. Sejak sampai di rumahnya, Dodi tidak ada berkata apapun dan Dodi pun memilih untuk berdiam di dalam kamarnya. Mama Dodi khawatir akan kondisi anaknya, ia pun memutuskan untuk menanyakan kepada Dedi kenapa anaknya itu. Ya.. jawaban Dodi hanya 1 kalimat. “Dodi tadi habis menyelidiki rumah angker itu te”. Mama Dodi tidak menyangka, betapa anaknya ingin tahu kisah rumah itu.
            Seminggu berlalu, kondisi Dodi pun mulai membaik. Merasa sudah fit , Dodi mengajak teman-temannya bermain sepak bola. Mau gimana lagi. Tempat satu-satunya yang bisa dijadikan lapangan sepak bola di komplek mereka hanya lahan kosong yang ada di samping rumah angker itu. Dengan terpaksa mereka bermain disitu. “Den, oper ke aku dong bolanya” ucap Dodi dipertengahan permainan itu. Setelah bola itu ada di Dodi, Dodi langsung menendangkan bola itu ke arah gawang lawan. “Pranggg!!!” bunyi kaca jendela yang pecah karena bola tendangan Dodi. Seketika permainan itu dihentikan. Mereka semua diam membisu sambil melihat ke arah jendela yang pecah kacanya. Tidak lama kemudian, ketakutan mulai menghantui mereka. Mereka semua langsung pergi meninggalkan tempat itu, terkecuali Dodi. Dodi tidak mau lari begitu saja dari kesalahan yang ia buat.
            “Tok, tok, tok” Dodi mengetuk pintu rumah itu. “Ada orang nggak?” ucap Dodi sambil sedikit berteriak. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Terlihat seorang nenek berdiri di situ. Dodi terkejut melihat nenek itu. “Ini manusia atau hantu ya?” pikirnya dalam hati. Mata Dodi dengan segera mencermati nenek yang ada dihadapannya itu. “Kakinya nyentuh lantai kok” pikirnya lagi. “Kamu anak yang mecahin kaca jendela saya kan” ucap nenek itu sambil tersenyum. Dodi mengangguk, Dodi pun segera meminta maaf kepada nenek itu. Nenek itu lalu  mengajak Dodi untuk masuk ke rumahnya. Walaupun sebenarnya Dodi masih takut. Namun Dodi menyetujui ajakan nenek itu. “Nek, sebelumnya Dodi minta maaf. Kok kata orang disini, rumah ini angker sih nek? Terus hampir tiap malam orang-orang disini mendengar suara yang  aneh” Tanya Dodi penasaran. Nenek itu menjelaskan semua kepada Dodi . “Gini nak. Mungkin orang-orang beranggapan karena rumah ini tua, sudah tidak terawat lagi. Trus tentang bunyi aneh itu, nenek memang suka lagu begitu. Itu lagu supaya nenek bisa tidur.  ” jawab Nenek. “Tetapi, kenapa nenek nggak pernah keluar rumah atau jalan-jalan sekitar komplek trus biasanya jendela nenek tertutup terbuka sendiri” Tanya Dodi lagi. “Nenek malas untuk keluar nak. Nenek nggak tahu kalau diluar nenek mau ngapain. Tentang jendela. Jendela nenek itu sudah rusak nak. Jadi itu karena angin ” jawab Nenek. “Nenek tinggal sendiri? Suami nenek mana?” Tanya Dodi. Nenek terdiam. Terukir wajah sedih di wajah nenek. Dodi menjadi tidak enak hati. Namun nenek tetap menjawab pertanyaan Dodi. Nenek berkata bahwa ia adalah perawan tua. Dodi pun menghentikan pertanyaannya Sekarang ia pun tahu . Tidak ada hantu, tidak ada rumah angker. Beberapa lama kemudian, Dodi memutuskan untuk pulang. Sejak saat itu, rumah nenek ramai karena teman-teman Dodi. Nenek pun merasa senang, nenek menjadi tidak kesepian lagi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar