NATAL KENANGAN
“Natal”. Sebuah hari raya untuk memperingati lahirnya Sang Juru Selamat bagi umat Kristiani. Bagi setiap umat Kristiani, Natal adalah masa yang bahagia, masa yang paling ditunggu-tunggu. Namun tidak berlaku untuk natal Shela tahun ini, 2 hari lagi Natal akan tiba, Tetapi Shela belum sama sekali menyiapkan apapun untuk hari yang seharusnya menjadi hari yang bahagia itu. Shela merasa Natal tahun ini, akan menjadi Natal terburuk seumur hidupnya.
“Kenapa sih orang tua ku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri? Sampai-sampai Natal akan tibapun mereka masih belum ada dirumah“. Pikir Shela dalam hati.
Dengan segera Shela meraih Handphone pink kesayangannya dan menekan nomor Mamanya. Namun hasilnya tetap saja nihil untuk Shela. Mamanya belum memberikan kepastian akan pulang. Tidak bisa lagi Shela menyembunyikan rasa kecewanya itu, air mata Shela langsung turun membasahi wajah mungilnya.
“Tidak ada natal untuk tahun ini! Shela benci Natal! Benci! Benci! Ucap Shela histeris.
“Tok, tok, tok” terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.
Dengan segera Shela mengakhiri tangisannya dan membuka pintu kamarnya. Di lihatnya seorang gadis cantik berkulit putih berdiri di depan pintu kamar. Gadis itu bernama Cici, sahabatnya. Tanpa berbasa basi lagi, Shela mempersilahkannya masuk .
“Kamu habis nangis ya Shel?” Tanya Cici. Shela menggelengkan kepalanya.
Shela tidak ingin Seorang yang dianggapnya sahabat itu tahu apa yang sedang dialaminya sekarang.
“Benar nih? Cerita dong Shel. Aku kan sahabatmu” rayu Cici.
Setelah beberapa kali Cici merayu Shela untuk bercerita, akhirnya hati Shela luluh juga . Shela tidak segan-segan menceritakan semua yang terjadi dari A- Z. Cici terharu mendengar cerita dari sahabatnya ini, begitu memilukan. Ya.... Siapa yang tidak sedih? Hari Natal yang seharusnya dilalui dengan keluarga, bahagia, suka cita, dan penuh canda tawa. Menjadi suatu hari yang buruk. Setelah beberapa lama, hati Shela pun menjadi sedikit tenang. Shela segera berterima kasih kepada Cici.
“Makasih ya Ci. Kamu sudah mau dengar cerita aku ditambah dengan saranmu . Aku jadi ingat kata-kata yang pernah Mama aku bilang : ketika dunia terang , alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disamping. Nah, itu seperti kamu dengan aku Ci” sambung Shela sambil memeluk Cici.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tepat. Namun Shela masih saja mondar-mandir tidak jelas. Matanya sulit sekali untuk dipejamkan. Pikirannya selalu dihantui rasa sedih. Shela berharap ada sebuah pesan singkat dari mamanya. Namun tetap saja nihil. Akhirnya , karena sudah berputus asa dan kebetulan matanya juga sudah mulai mengantuk. Shela pun tidur.
Belum 20 menit Shela menikmati mimpinya, Shela sudah terbangun karena mendengar suara Bi Imah, pembantunya yang mengetok pintu kamarnya keras. Dengan setengah sadar, Shela membuka pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya Shela melihat Bi Imah yang bertetesan air mata diwajah khasnya sambil membawa selembar kertas putih.
“Bibi kenapa? Kenapa Bi? Cerita sama Shela” ucap Shela sambil mengoncang-goncangkan badan Bi Imah.
Bi Imah tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Bi Imah yakin berita yang dibawakannya sekarang akan membuat Shela sedih berat. Bi Imah jadi serba salah.
“Bagaimana kalau Shela tidak menerima semuanya? Bagaimana kalau Shela frustasi?” pikir Bi Imah menduga.
Bi Imah memandangi wajah Shela, bukan karena kagum namun karena kasihan. Dengan tangan bergemetaran dan berkeringat Bi Imah memberikan selembar kertas putih itu kepada Shela. Ya.. Dugaan Bi Imah tidak meleset. Shela hanya diam memandangi selembar kertas putih itu. Mulutnya terasa tidak bisa untuk berucap. Badannya pun semakin lama semakin lemah.
“Non, bangun Non!!” ucap Bi Imah panik.
Tanpa berbasa-basi lagi, Bi Imah segera mencari cara untuk menyadarkan Shela dari pingsan sesaatnya. Usaha Bi Imah pun tidak sia-sia. Shela kini telah sadar. Namun kondisinya belum begitu sempurna, Shela harus istirahat. Shela menuruti perintah Bi Imah. Mau gimana lagi, badannya terasa sangat lemas, Shela tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mama dan papa beneran udah nggak ada lagi ya Bi?” Tanya Shela lirih.
Bi Imah membisu. Ia tidak mau berkomentar apapun. Namun Shela tetap memaksa Bi Imah untuk menjawab. Bi Imah tidak tega melihat wajah Shela ketika itu.
“Untuk kebenarannya tunggu besok aja ya non? Polisi sedang menyelidiki semuanya” jawab Bi Imah sambil mengelus anak majikannya itu.
Tidak lama kemudian. Shela tertidur disandaran Bi Imah.
Matahari menyinari setiap sudut kamar Shela. Namun Shela belum terbangun dari tidurnya. Bi Imah pun hanya membiarkan Shela. Bi Imah tidak ingin Shela teringat dan kembali sedih.
“Tinung, tinung, tinung” bunyi suara khas mobil polisi yang terparkir mulus di halaman depan Rumah Shela.
Shela pun terbangun mendengar suara berisik yang berasal dari halaman depan rumahnya itu. Ia pun langsung pergi menuju asal suara itu.
“Gimana mama papa saya pak?” Tanya Shela dengan nada sedih.
Pak polisi tidak memberikan jawaban apapun. Pak polisi itu hanya memberi informasi bahwa sampai saat ini kedua orang tua Shela belum ditemukan dalam kejadian pesawat jatuh itu. Bagi Shela, informasi yang diberikan sama sekali tidaklah penting. Sama seperti informasi yang dibacanya semalam. Kedua informasi itu hanya membuat kesedihan dalam dirinya. Shela tertunduk lesu masuk ke rumahnya.
“Kata mereka diriku selalu dimanja. Kata mereka diriku selalu ditimang. Ooh.. Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku” begitulah sepotong lirik lagu yang sedang MP3 Shela mainkan.
Tangisannya mulai meledak saat lagu itu mengalun. Tidak bisa lagi ia menahan semua ini. Terasa penat dihadapi. Terasa sulit untuk diterima. Walaupun orang tua Shela belum dinyatakan “selamat” ataupun “tewas”. Baginya sama saja.
“Shela. Besok udah Natal tuh. Jangan lupa ke rumah ya?” Bunyi sebuah pesan singkat cici untuk Shela.
Shela bingung membaca pesan singkat Cici, bukan karena Cici salah bicara atau apapun. Shela tidak menyangka besok udah Natal. Untuk meyakinkan lagi, Shela segera bergegas melihat ke kalender yang tergantung di samping kaca riasnya.
“Besok udah Natal! Ah! Apa kepentingan Shela dengan Natal! Natal nggak ada untuk Shela tahun ini” pikir Shela sambil memaki-maki dirinya.
Shela jadi ingat sesuatu hal. 4 hari lalu, mama papa Shela berjanji akan memberikan Shela kado natal. Tetapi sekarang itu sudah tidak mungkin lagi. Shela sudah putus asa.
“Ya.. Natal terburuk ku” pikir Shela.
Kesedihan mulai menghantui Shela kembali. Shela mulai kangen dengan mama papanya. Air matanya pun tidak bisa tertahankan. Jatuh terbuang sia-sia. Shela mulai menyalahkan Tuhan atas semuanya.
“Kenapa sih Tuhan ambil mama papa secepat itu? Kalau pun secepat itu, kenapa nggak langung juga dengan Shela? Tuhan jahat. Tuhan nggak adil! Shela nyesal udah hidup didunia ini” maki Shela.
“Telah ditemukan 2 penumpang Venny air yang jatuh diperbatasan Papua. Dengan berinisial VR dan VG” suara reporter salah satu chanel TV swasta itu.
Bi Imah yang sedang membersihkan rumah. Langsung menghadapi berita tersebut. Bi Imah pun berdoa supaya yang selamat itu adalah majikannya.
“Krinnggg!!!!!!!!!!!” bunyi bell rumah Shela.
Bi Imah segera membukakan pintu. Terlihat 2 polisi yang berseragam lengkap berdiri di situ.
“Maaf pak. Ada yang bisa saya batu?” Tanya Bi Imah sopan.
“Begini Bu. Saya meminta maaf atas kelalaian yang kami buat. Sehingga mungkin membuat anda khawatir. Berita tentang korban pesawat jatuh itu. Kami salah alamat bu” penjelasan salah satu polisi itu panjang lebar.
Bi Imah langsung memperlihatkan ekspresi senangnya. Langsung dipeluknya kedua polisi itu. Kedua polisi itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Bi Imah. Setelah kedua polisi itu pamit. Bi Imah ingin segera menyampaikan berita bahagia itu kepada Shela. Bi Imah segera menuju ke kamar Shela. Di lihatnya Shela sedang tertidur pulas dikasur kesayangannya. Wajah Shela begitu lucu saat tidur, Bi Imah tersenyum melihatnya. Niat untuk memberitakan hal ini ditunda Bi Imah sampai Shela bangun nanti.
“Tuan. Nyonya. Baik-baik saja kan?” Tanya Bi Imah saat kedua tuan rumahnya itu berada di teras rumah.
Mereka bingung kenapa pembantunya menanyakan demikian.
“Apakah ada yang salah dengan mereka” pikir mereka.
Belum saja kedua majikannya bergegas masuk, Bi Imah langsung menarik mereka untuk masuk dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Reaksi kedua majikannya itu sama. Mereka tidak menyangka ada kesalahan dari pihak polisi yang mengabarkan mereka merupakan salah satu korban Venny Air . Mereka pun menduga, pasti putri semata wayangnya sedih setengah mati.
“Jinggle bells, jingle bells , jingle all the way” . Terdengar bunyi DVD yang membuat Shela terbangun.
Dengan segera Shela membuka matanya dan langsung bergegas ke ruang tamu tempat asal bunyi itu. Shela ingin mematikan DVD itu. Karena yang sedang dimainkan DVD itu adalah lagu Natal.
“Natalkan tidak ada untuk Shela tahun ini” pikir Shela dalam hati kesal.
Belum Shela menjalankan niat untuk mematikan DVD itu. Ia dikagetkan dengan 2 sosok orang yang ia sangat sayang sedang menghias pohon Natal. Shela mengucek matanya. Mencubit tangannya.
“Aww! Ya.. Aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata. Mereka masih hidup” pikir Shela.
Dengan segera Shela memeluk mama papanya itu dan menangis dipelukan mereka.
“Shela kira. Mama dan papa tidak akan pernah kembali lagi” ucap Shela.
Mama Shela mengelus rambut putrinya itu. Bi Imah muncul dari arah dapur dan langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mama dan papa Shela melanjutkan menghias pohon Natal itu, Shela pun tidak mau kalah ikut membantu. Pohon itu kini terhias megah dengan berbagai hiasan. Shela tersenyum penuh makna memandang pohon itu. Saking senangnya, Shela kemudian berteriak keras “Selamat Natal semuanya!!! ”






0 komentar:
Posting Komentar